Buku Cetak Ensiklik Magnivica Humanitas dari Paus Leo XIV Buku Cetak Ensiklik Magnivica Humanitas dari Paus Leo XIV  (AFP or licensors)

Imam Silicon Valley: Ensiklik Baru Paus Perkuat Dialog Gereja dan Dunia Teknologi

Romo Brendan McGuire, seorang mantan insinyur yang kini menjadi pastor paroki di Silicon Valley, California, mengatakan bahwa ensiklik Paus Leo XIV berjudul Magnifica humanitas memberikan dorongan baru bagi keterlibatan Gereja dengan mereka yang berada di garRomo Brendan McGuire, seorang mantan insinyur yang kini menjadi pastor paroki di Silicon Valley, California, mengatakan bahwa ensiklik Paus Leo XIV berjudul Magnifica humanitas memberikan dorongan baru bagiis terdepan perkembangan teknologi.

Oleh Salvatore Cernuzio

 

ROMA – Terbitnya ensiklik pertama Paus Leo XIV, Magnifica humanitas, dinilai menjadi momentum baru bagi Gereja Katolik untuk memperdalam dialog dengan dunia teknologi, khususnya para pelaku industri kecerdasan buatan (AI) di Silicon Valley.
Pandangan itu disampaikan Pastor Brendan McGuire, imam asal Irlandia yang kini melayani di Paroki St. Simon, Los Altos, California—kawasan yang dikenal sebagai jantung Silicon Valley. Sebelum menjadi imam, McGuire merupakan seorang insinyur dengan latar belakang ilmu komputer dan keamanan siber.Dalam refleksinya usai peluncuran ensiklik tersebut, Pastor McGuire mengatakan perhatian Vatikan terhadap AI sebenarnya telah berkembang melalui proses dialog panjang selama hampir satu dekade.

Kontak Pertama

“Saya berasal dari dunia ini. Walaupun sudah menjadi imam selama 26 tahun, saya tidak pernah benar-benar meninggalkan relasi dengan orang-orang di sektor teknologi,” ujarnya kepada para jurnalis di Aula Paulus VI Vatikan.
Pengalaman masa lalunya di dunia korporasi membuat McGuire tetap memiliki hubungan dekat dengan para pemimpin perusahaan teknologi. Banyak rekannya kini menduduki posisi penting sebagai CEO maupun CFO perusahaan besar di Silicon Valley.
Menurutnya, dalam beberapa tahun terakhir semakin banyak pelaku industri teknologi yang mulai menyampaikan kegelisahan moral terkait perkembangan AI dan dampaknya terhadap masyarakat.
“Sebagian datang dan berkata mereka takut dengan apa yang sedang muncul dari Silicon Valley. Ada yang merasa ingin mundur karena perkembangan teknologi bergerak terlalu jauh. Ada juga yang bertanya, ‘Apa yang bisa kita lakukan?’” katanya.

Pencarian Jalan tengah

Dari percakapan-percakapan itulah lahir berbagai forum dialog yang kemudian berkembang menjadi sesi mendengarkan bersama antara Gereja dan para pelaku industri teknologi. Bersama Uskup Paul Tighe dari Dikasteri Kebudayaan dan Pendidikan Vatikan, McGuire ikut membangun ruang-ruang perjumpaan yang mempertemukan ilmuwan, pengusaha teknologi, ahli etika, dan pemimpin agama.
Upaya tersebut kemudian melahirkan Institute for Technology, Ethics and Culture di Santa Clara University, sebuah lembaga yang fokus pada hubungan antara teknologi, budaya, dan etika.
Mereka juga menerbitkan buku panduan berjudul Ethics in the Age of Disruptive Technologies yang membahas tantangan moral di era teknologi disruptif.
Menurut McGuire, dialog itu semakin berkembang setelah ia bertemu Chris Olah, salah satu pendiri perusahaan AI Anthropic, pada musim gugur tahun lalu.
“Hubungan yang sangat dekat lahir dari proses saling mendengarkan,” katanya.Ia menambahkan, sejumlah pertemuan antara Vatikan dan para pemimpin Silicon Valley terus berlangsung, baik melalui forum Minerva Talks di California maupun diskusi di Roma. Semua itu memperkuat kerja sama antara Gereja, komunitas agama lain, dan dunia teknologi dalam apa yang ia sebut sebagai “pencarian kebijaksanaan bersama.”
“Mereka merasa menemukan partner dalam perjalanan ini, dan itulah yang ingin kami hadirkan,” ujar McGuire.

Batu Locatan dalam Perjalanan

Bagi McGuire, ensiklik Magnifica humanitas menjadi semacam peneguhan atas perjalanan panjang Gereja dalam membaca perubahan zaman melalui terang Injil, termasuk menghadapi revolusi AI.
Ia menolak anggapan bahwa dialog dengan perusahaan teknologi besar hanya akan dimanfaatkan sebagai pencitraan semata oleh Big Tech.
“Risiko terbesar justru jika kita tidak melakukan apa-apa,” tegasnya.
McGuire mengutip pidato Martin Luther King Jr. tahun 1967 tentang pentingnya menggunakan suara di tengah situasi mendesak.

Dialog yang Terus Dibangung

“Keheningan bisa menjadi bentuk pengkhianatan. Saya rasa kita sedang berada pada momen sejarah ketika kita harus bersuara dan membangun dialog,” katanya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa Gereja tidak selalu sejalan dengan perusahaan teknologi, terutama terkait kritik ensiklik terhadap konsentrasi kekuasaan di tangan segelintir perusahaan besar yang kerap mengabaikan kelompok masyarakat rentan.
“Banyak orang takut pada dampak teknologi terhadap pekerjaan, anak-anak, dan masa depan dunia. Dan ketakutan itu memang beralasan,” ujarnya.
Namun menurut McGuire, teknologi tidak dapat dihindari dan akan terus membentuk masa depan manusia, dengan atau tanpa keterlibatan Gereja.
Ia membandingkan situasi tersebut dengan pengalaman konflik di Irlandia Utara, ketika dialog dengan pihak yang dianggap lawan sering dipandang sebagai pengkhianatan.
“Kalau ingin perdamaian, kita harus mau berdialog bahkan dengan mereka yang dianggap musuh. Hal yang sama berlaku untuk teknologi,” katanya.

Langkah Pertama, Bukan Terakhir

Ke depan, McGuire berharap lahir lebih banyak “lingkaran kebijaksanaan” atau ruang dialog tempat berbagai pihak dapat duduk bersama dan saling mendengarkan.
“Kami akan segera memulainya. Bahkan besok sudah ada pertemuan lanjutan,” ujarnya.
Ia mengatakan harapannya adalah membangun delegasi yang dapat datang langsung ke Silicon Valley untuk mendengarkan lebih luas suara dari dunia teknologi.
“Ini bukan akhir, melainkan langkah pertama. Ini adalah awal dialog, bukan kesimpulannya,” kata Pastor McGuire.

26 May 2026, 14:00