Foto arsip anggota komunitas Dalit di India melakukan aksi protes di New Delhi, Agustus 2018. Foto arsip anggota komunitas Dalit di India melakukan aksi protes di New Delhi, Agustus 2018.   (AFP or licensors)

Bangladesh: Gereja Mendampingi Kaum Dalit dan Menaikkan Martabat Mereka

Di Keuskupan Khulna, tempat sebagian besar umat Katolik berasal dari komunitas Dalit, Gereja memadukan evangelisasi, pendidikan, dan dukungan sosial untuk membantu komunitas yang secara historis terpinggirkan memulihkan martabat mereka dan membangun masa depan yang lebih baik.

Oleh Sr. Christine Masivo, CPS

Jutaan orang Dalit—yang kerap disebut sebagai kelompok “tak tersentuh”, dan marginalisasi terhadap mereka dalam masyarakat Bangladesh masih berlangsung lama setelah hierarki kasta yang melahirkannya secara resmi dilarang—tinggal di Bangladesh.

Di wilayah barat daya negara itu, Keuskupan Khulna membangun identitas pastoralnya di sekitar salah satu realitas sosial yang paling kurang mendapat perhatian di Bangladesh. Bagi Gereja setempat, pelayanan kepada komunitas ini bukanlah proyek sampingan; pelayanan tersebut merupakan bagian yang dekat dengan jantung misinya.

Komunitas yang dibentuk oleh eksklusi

Meskipun Bangladesh merupakan negara dengan mayoritas penduduk Muslim, yang mencapai 89 persen dari total populasi, struktur sosial negara tersebut masih mewarisi pengaruh sistem kasta Hindu, yang menjadi asal-usul praktik “ketidaktersentuhan”.

Badan berita Fides milik Vatikan memperkirakan terdapat antara tiga hingga lima juta orang Dalit yang tinggal di Bangladesh saat ini. Banyak di antara mereka masih terbatas pada pekerjaan yang sejak lama dianggap “tidak suci”, seperti menyapu jalan, membersihkan saluran pembuangan, mengumpulkan sampah, dan berbagai bentuk pekerjaan manual bergaji rendah.

Konstitusi Bangladesh secara resmi melarang diskriminasi. Namun, kenyataan yang dihadapi masyarakat menunjukkan hal yang berbeda. Akses terbatas terhadap pendidikan, kesulitan memasuki pasar kerja yang lebih luas, serta kondisi perumahan yang tidak layak masih menjadi bagian dari kehidupan banyak orang Dalit.

Wilayah Khulna sendiri, yang merupakan salah satu pusat perkotaan dan industri penting, diperkirakan menjadi tempat tinggal sekitar 500.000 orang Dalit. Banyak dari mereka tinggal di kawasan kumuh di pinggiran kota dan permukiman informal yang terbentuk akibat marginalisasi ekonomi dan geografis selama puluhan tahun.

Pendidikan, pekerjaan, dan dukungan sehari-hari

Uskup Khulna, Mgr. James Romen Boiragi, menggambarkan pelayanan keuskupannya sebagai pendampingan konkret yang berjalan seiring dengan pelayanan spiritual.

Keuskupan yang didirikan pada 1952 dan kini menjadi bagian dari Provinsi Gerejawi Dhaka itu mencakup delapan distrik. Pelayanannya dilakukan melalui paroki-paroki, sekolah-sekolah Katolik, dan berbagai program Caritas.

Uskup menjelaskan bahwa karya keuskupan berpusat pada pembangunan manusia dan membantu keluarga menyekolahkan anak-anak mereka. Gereja juga membantu mereka memperoleh pekerjaan serta memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam berbagai upaya tersebut, Caritas memainkan peran penting.

Dari sekitar 37.000 umat Katolik di keuskupan tersebut, sebagian besar berasal dari komunitas Dalit. Karena itu, pelayanan kepada mereka bukanlah sesuatu yang berada di luar kehidupan keuskupan, melainkan bagian utama dari identitasnya.

Namun, Mgr. Boiragi menegaskan bahwa dukungan sosial, betapapun pentingnya, bukanlah keseluruhan misi Gereja. Katekese dan pembinaan pendidikan tetap berada di jantung komitmen Gereja.

Ia juga mengamati bahwa diskriminasi berbasis kasta tidak terbatas pada satu kelompok agama. Menurutnya, masyarakat Dalit dari komunitas Hindu masih menghadapi persoalan tersebut. Diskriminasi berbasis kasta juga tetap berlangsung di tengah masyarakat Muslim dan Hindu secara lebih luas.

Iman sebagai jalan menuju martabat

Bagi banyak orang Dalit, memeluk Kekristenan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pencarian yang lebih luas akan penghormatan sosial dan pembaruan diri.

Mgr. Boiragi mengatakan bahwa pertobatan sering kali mengubah cara orang Dalit diperlakukan. Diskriminasi yang selama ini mereka alami dapat berganti dengan penghormatan yang lebih besar. Dalam kenyataan sehari-hari, hal itu juga membuka jalan menuju kondisi kehidupan yang lebih baik.

Keuskupan berupaya memastikan bahwa perubahan tersebut benar-benar menghasilkan inklusi. Upaya itu dilakukan melalui hubungan konstruktif dengan komunitas-komunitas agama lain dan dengan mendorong komunitas Katolik yang lebih luas untuk menerima anggota-anggota baru sebagai saudara dan saudari.

Dalam kerangka spiritual, Uskup Boiragi menggambarkan perjumpaan dengan Injil sebagai penemuan kembali martabat: kesadaran bahwa seseorang adalah anak Allah sekaligus pembebasan dari penindasan dan marginalisasi.

Ia menambahkan bahwa perjumpaan tersebut juga memiliki dampak konkret karena sering kali membuka akses terhadap pendidikan dan kesempatan untuk mengembangkan diri.

Di Khulna, evangelisasi dan pembangunan manusia dipandang sebagai dua ungkapan dari satu misi yang sama.

Bagi sebuah keuskupan yang sebagian besar umat Katoliknya berasal dari komunitas Dalit, misi tersebut membawa keyakinan yang jelas: pewartaan Injil dapat memulihkan harapan bagi mereka yang paling rentan sekaligus membantu membangun masyarakat yang lebih adil dan inklusif.

07 Aug 2026, 12:34