Gurun di Yudea. Gurun di Yudea. 

Mengikuti Jejak Yesus ke Kota Kapernaum

Romo Francesco Patton, OFM, merefleksikan kota Kapernaum.

Oleh Francesco Patton

Penginjil Matius menggambarkan kepergian Yesus dari tempat Ia dibesarkan menuju tempat tinggal-Nya yang baru, “kota-Nya” (Mat 9:1), pada awal pelayanan publik-Nya, dengan kata-kata berikut:

“Ketika Yesus mendengar bahwa Yohanes telah ditangkap, Ia menyingkir ke Galilea. Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali” (Mat 4:12-13).

Matius Lewi, yang bekerja sebagai pemungut cukai bagi penjajah Romawi di jalan yang menghubungkan Kapernaum dengan Damaskus, juga memberikan alasan teologis di balik perpindahan tempat tinggal Yesus:

“Supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: ‘Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang Sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain—bangsa yang diam dalam kegelapan telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang’” (Mat 4:14-16).

Hingga kini, para peziarah yang mengunjungi Kapernaum di tepi Danau Tiberias dapat mengalami pengalaman luar biasa: melihat kota tempat Yesus menghabiskan sebagian besar dari tiga tahun pelayanan-Nya di Galilea.

Di tempat inilah Ia memanggil para rasul-Nya, berkhotbah, menyembuhkan orang sakit, dan melakukan berbagai tanda ajaib yang menyingkapkan identitas-Nya yang mendalam sebagai Mesias dan Putra Allah.

Romo Stanislao Loffreda, arkeolog Fransiskan dari Studium Biblicum Franciscanum (SBF) di Yerusalem, mengabdikan seluruh hidupnya untuk situs ini. Ia menjadi asisten utama Fr. Virgilio Canio Corbo dalam 19 kampanye penggalian yang dilakukan di tempat ini antara 1968 dan 1986.

Dalam panduannya mengenai Kapernaum, yang menjadi sumber utama artikel ini, ia mengingatkan kembali tujuan sesungguhnya dari arkeologi:

“Para arkeolog menggali peninggalan material dari masa lalu, tetapi sebenarnya kami sedang mencari sesuatu yang lebih. Tujuan akhir kami adalah, sejauh mungkin, membangun kontak dengan generasi masa lalu, berbicara dengan mereka dan membiarkan mereka berbicara kepada generasi masa kini” (bdk. S. Loffreda, Cafarnao, Yerusalem, 1995, hlm. 7).

Ketika kita memandang Kapernaum sebagai “kota Yesus” dan kota para rasul pertama, kita segera memahami pentingnya peninggalan kunonya bagi seluruh umat manusia.

Bagi para frater dari Kustodi Tanah Suci yang menjaga tempat ini dan hidup di sana sebagai komunitas persaudaraan yang berdoa sekaligus menyambut para peziarah, Kapernaum jauh lebih dari sekadar situs arkeologi: Kapernaum adalah kota Yesus, rumah Tuhan.

Sebuah desa di tepi danau

Situs arkeologi ini terletak di tepi barat laut Danau Tiberias (Kinneret), di Galilea, sekitar 210 meter di bawah permukaan laut, 16 kilometer dari Tiberias, tiga kilometer dari Tabgha, dan lima kilometer dari tempat Sungai Yordan mengalir ke danau.

Nama Semitik asli tempat ini adalah Kfar Nahum, yang berarti “desa Nahum”. Salah satu nabi yang disebut sebagai nabi-nabi kecil juga memiliki nama tersebut.

Origenes menerjemahkannya sebagai “ladang penghiburan” (dari akar kata Ibrani nhm), sedangkan Santo Hieronimus menggunakan istilah “kota yang indah” (dari akar kata n’m).

Flavius Yosefus memilih nama Capharnaoum, yang paling dekat dengan pelafalan bahasa Ibrani (bdk. S. Loffreda, op. cit., hlm. 14-15).

Reruntuhan Kapernaum kuno mencakup sekitar tujuh hektare. Dua pertiganya merupakan milik Kustodi Tanah Suci Fransiskan, sedangkan bagian yang tersisa di sisi timur merupakan milik Patriarkat Ortodoks Yunani.

Desa kuno tersebut ditinggalkan sekitar 1.000 tahun lalu, meskipun beberapa keluarga Arab dari suku Semekiyeh tetap tinggal di sana hingga perang Arab-Israel pada 1948.

Pada zaman Yesus, Kapernaum merupakan kota perbatasan yang memiliki pos pemungutan cukai (bdk. Mrk 2:13-15), dan terletak di jalur kekaisaran menuju Damaskus.

Kota ini merupakan satu-satunya kota di tepi barat laut danau dan berjarak lima kilometer dari Yordan Hulu, yang menjadi batas antara tetrarki Herodes Antipas dan wilayah Golan yang diberikan kepada saudaranya, Filipus. Keduanya adalah putra Herodes Agung.

Pada 1975, sebuah tonggak jalan yang mencantumkan nama Kaisar Hadrianus ditemukan sekitar 100 meter di sebelah barat laut sinagoga. Penemuan ini menegaskan bahwa dahulu terdapat jalan kekaisaran di tempat tersebut (bdk. S. Loffreda, op. cit., hlm. 18-19).

Keberadaan detasemen tentara Romawi, sebagaimana dicatat dalam Injil (bdk. Luk 7:1-10; Mat 8:5-13), menunjukkan pentingnya desa ini sebagai tempat persinggahan.

Kapernaum memiliki hubungan perdagangan dengan Galilea Hulu, Golan, Siria, Asia Kecil, Siprus, Afrika, dan wilayah Fenisia, sebagaimana dibuktikan oleh koin dan keramik yang ditemukan.

Hal yang mengejutkan bagi Fr. Loffreda adalah minimnya hubungan dengan Palestina bagian tengah dan selatan (bdk. S. Loffreda, op. cit., hlm. 19).

Yesus meninggalkan Nazaret dan tinggal di Kapernaum

Seperti telah disebutkan sebelumnya, Yesus meninggalkan Nazaret dan pergi untuk tinggal di Kapernaum. Keputusan tersebut bukanlah sesuatu yang kebetulan.

Nazaret “merupakan daerah pegunungan yang terputus dari jalur-jalur komunikasi utama”, sedangkan Kapernaum berada di sebuah jalan strategis dan “cukup jauh dari pusat-pusat perkotaan besar, khususnya Tiberias, tempat Herodes Antipas mendirikan ibu kotanya”.

Dengan demikian, Yesus dapat “menyebarluaskan pesan mesianik-Nya tanpa segera memicu reaksi dari para pemimpin politik dan agama”.

Selain itu, Kapernaum memiliki penduduk yang beragam: nelayan, petani, pengrajin, pedagang, dan pemungut cukai.

Hubungan mereka dengan orang-orang Romawi ditandai “oleh keramahan yang unik, sampai-sampai seorang perwira Romawi membangun sinagoga bagi komunitas Yahudi” (bdk. S. Loffreda, op. cit., hlm. 68-69).

Karena itu, tidak mengherankan jika Yesus memanggil para murid pertama-Nya dari komunitas ini: para nelayan Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes, serta pemungut cukai Matius.

Rumah Petrus: dari domus-ecclesia menjadi memorial

Penemuan paling penting dari penggalian yang dilakukan para Fransiskan adalah apa yang disebut insula sacra.

Dipimpin oleh Romo Virgilio Corbo dan Romo Stanislao Loffreda, penggalian pada 1968 memungkinkan rekonstruksi sejarah tempat tersebut dan mengidentifikasi empat fase penting.

Sejarah rumah tempat Yesus tinggal “dapat dirangkum sebagai berikut:

  1. Fase awal berasal dari abad pertama sebelum Masehi.
  2. Mulai akhir abad pertama Masehi, sebagian rumah tersebut […] diubah menjadi domus-ecclesia, yaitu tempat yang diperuntukkan bagi pertemuan-pertemuan keagamaan.
  3. Pada abad keempat, domus-ecclesia tersebut diperluas dan dipisahkan dari bagian desa lainnya oleh tembok pembatas yang kokoh.
  4. Pada paruh kedua abad kelima, seluruh bangunan insula sacra dihancurkan dan sebuah gereja berbentuk segi delapan dibangun” (bdk. S. Loffreda, op. cit., hlm. 51).

Bahwa ruangan tersebut merupakan tempat ibadah Kristen dibuktikan oleh grafiti yang memuat nama dan monogram Yesus, ungkapan-ungkapan liturgis seperti Amen dan Kyrie Eleison, serta sebuah tulisan dalam Paleo-Estrangelo, varian bahasa Siria kuno, yang tampaknya merujuk pada Ekaristi.

“Keberagaman bahasa menunjukkan dugaan kuat bahwa domus-ecclesia tidak hanya digunakan oleh umat setempat, tetapi juga oleh para peziarah” (bdk. S. Loffreda, op. cit., hlm. 60).

Dalam De locis sanctis, Petrus Diakon (1107-1140 M) melaporkan kesaksian peziarah Egeria dari abad keempat yang menggambarkan domus-ecclesia sebagai berikut:

“Di Kapernaum, rumah pemimpin para rasul telah diubah menjadi sebuah gereja. Tembok-temboknya masih berdiri hingga hari ini dan di tempat inilah Tuhan menyembuhkan orang lumpuh. Di tempat ini juga terdapat sinagoga tempat Tuhan menyembuhkan seorang yang kerasukan setan. Sinagoga ini dibangun dari batu-batu persegi dan terdapat banyak anak tangga menuju pintu masuknya” (Petrus Diaconus, Liber de Locis Sanctis, dalam Itineraria et alia geographica, ed. R. Weber, CCL, 175, Turnhout 1965, hlm. 98-99).

Gereja berbentuk segi delapan yang dibangun pada paruh kedua abad kelima dirancang dengan bentuk oktagonal di bagian tengah, tepat di atas rumah tersebut. Desain ini menunjukkan kepada para peziarah “lokasi persis rumah Santo Petrus, yang pada saat itu telah terkubur di bawah podium gereja” (bdk. S. Loffreda, op. cit., hlm. 66).

Menjelang akhir abad kelima, sebuah bejana baptis dan sebuah apse ditambahkan di sisi timurnya (bdk. J. Patrich, Baptism in the Holy Land: 4th–7th Centuries, Milan 2025, hlm. 103-104).

Memorial modern yang dirancang arsitek Italia Ildo Avetta ditahbiskan pada 29 Juni 1990. Setelah wafat pada 1991, Romo Corbo, yang memimpin pembangunan tersebut, dimakamkan di bawah memorial sebagai penghormatan kepada Santo Petrus.

Sinagoga: dari abad keempat dan zaman Yesus

Monumen besar lainnya di Kapernaum adalah sinagoga yang dikenal sebagai “sinagoga putih”.

Berbeda dari rumah-rumah pribadi yang dibangun menggunakan batu basal berwarna gelap, sinagoga ini seluruhnya dibangun dari blok-blok batu kapur putih dengan berat hingga empat ton. Batu-batu tersebut didatangkan dari tempat penggalian yang berjarak beberapa kilometer.

Elemen-elemen dekoratifnya sangat halus dan diperkaya dengan simbol-simbol Yahudi.

 Romo Geiger menulis bahwa terkait sinagoga pada zaman Yesus, hingga awal abad ke-20, para arkeolog perintis pada umumnya yakin bahwa mereka telah menemukannya.

Namun, ketika arkeolog Jerman Heinrich Kohl dan Carl Watzinger menganalisis reruntuhan antara 1905-1916, mereka memperkirakan bahwa reruntuhan tersebut berasal dari sekitar tahun 200 M.

Karena reruntuhan itu tidak mungkin merupakan sinagoga yang ada pada zaman Yesus, antara 1968 dan 1990 para Fransiskan berupaya dengan sangat hati-hati memastikan apakah terdapat sinagoga yang lebih tua di bawah bangunan yang terlihat.

Salah satu temuan mengejutkan adalah lebih dari 30.000 koin (!) di lantai sinagoga pada masa tersebut. Koin-koin itu berasal dari akhir abad keempat Masehi, antara 383-395 (H. Fürst – G. Geiger, Terra Santa. Guida francescana per pellegrini e viaggiatori, Milano 2018², hlm. 220-221/1021).

Berdasarkan analisis terhadap koin-koin dan keramik dari periode Romawi akhir yang ditemukan pada berbagai lapisan situs, penggalian yang dilakukan Corbo dan Loffreda memungkinkan para arkeolog menentukan bahwa sinagoga tersebut berasal dari akhir abad keempat.

Para arkeolog juga menemukan lantai batu basal yang berasal dari abad pertama di bawah sinagoga putih. Lantai tersebut merupakan bagian dari sebuah bangunan publik yang ukurannya sedemikian besar sehingga tidak mungkin merupakan rumah pribadi.

Corbo dan Loffreda mengakui bahwa “lantai luas dari abad pertama yang ditemukan di bawah bagian tengah sinagoga putih mungkin merupakan bagian dari sinagoga yang selama ini dicari, yaitu sinagoga yang dibangun oleh perwira Romawi dan dikunjungi oleh Yesus” (S. Loffreda, op. cit., hlm. 32-49).

Di sinagoga inilah Yesus mengajar dengan penuh kuasa pada hari Sabat, mengusir roh-roh jahat (bdk. Mrk 1:21-28), dan menyampaikan khotbah tentang Roti Hidup (bdk. Yoh 6:22-71).

Kehidupan berdampingan komunitas Kristen dan Yahudi

Temuan arkeologis mengonfirmasi bahwa komunitas Kristen yang mayoritas dan komunitas Yahudi yang minoritas hidup berdampingan di desa Bizantium tersebut pada abad keempat hingga ketujuh Masehi.

Pecahan keramik yang ditandai dengan salib ditemukan dalam jumlah besar hampir di seluruh bagian situs yang berada di bawah Kustodi Fransiskan. Benda-benda seperti liontin yang menggambarkan Tetragrammaton Kudus juga menegaskan bahwa sinagoga tersebut pernah aktif.

Kapernaum merupakan kasus yang luar biasa di wilayah tersebut. Pada umumnya, komunitas-komunitas agama yang berbeda cenderung membangun permukiman mereka di desa-desa yang terpisah, bukan hidup berdampingan dalam satu tempat (bdk. S. L. Mattila, “Capernaum, Village of Nahum: From Hellenistic to Byzantine Times”, dalam Galilee in the Late Second Temple and Mishnaic Periods: Vol. 2, 2015, hlm. 249-251).

Sejarah arkeologi

Sejarah arkeologi Kapernaum dimulai pada 1838, ketika Edward Robinson mengidentifikasi reruntuhan sinagoga, meskipun ia belum menghubungkannya dengan situs yang disebut dalam Injil.

Charles Wilson kemudian mengidentifikasi reruntuhan sinagoga tersebut dengan tepat pada 1866.

Pada 1894, Kustodi Tanah Suci, melalui Bruder Giuseppe Baldi, membeli reruntuhan tersebut dari masyarakat Badui.

Deutsche Orient-Gesellschaft, melalui Kohl dan Watzinger, kemudian disusul Romo Wendelin von Menden, OFM, memulai penggalian pada awal 1900-an.

Pada 1920-an, Romo Orfali, OFM (1889-1926), seorang Fransiskan dari Nazaret, menemukan Basilika Bizantium.

Setelah terhenti cukup lama, pada 1968 Kustodi Tanah Suci mempercayakan penggalian kepada Romo Virgilio Corbo, OFM (1918-1991), dan Romo Stanislao Loffreda, OFM (1932-2025).

Mereka dibantu oleh Romo Bellarmino Bagatti, OFM, dan Romo Godfrey Kloetzly, OFM.

Pada tahun yang sama, mereka menemukan domus ecclesia yang berasal dari abad keempat di bawah gereja berbentuk segi delapan. Lebih dalam lagi ditemukan sebuah rumah dari abad pertama. Temuan ini menegaskan bahwa sekitar setengah abad setelah wafatnya Yesus, sebuah kawasan domestik telah diubah menjadi tempat ibadah Kristen untuk menghormati Petrus.

Penggalian Corbo menghasilkan rekonstruksi seluruh kronologi situs, mulai dari Zaman Perunggu Pertengahan (sekitar 2000-1550 SM) hingga periode Arab pada abad ketujuh.

Penggalian tersebut juga menghasilkan revisi penanggalan sinagoga monumental dan penemuan sinagoga yang lebih awal dari zaman Yesus.

Karya Corbo ditutup dengan pembangunan memorial di atas Rumah Petrus pada 1990. Ia kemudian digantikan oleh Romo Loffreda, yang meneliti fase Bizantium dan Arab serta menyunting seri ilmiah Capernaum yang terdiri dari sembilan volume dari SBF.

Romo Eugenio Alliata, OFM, mendata seluruh material batu di situs tersebut (bdk. https://www.custodia.org/it/santuari/cafarnao/).

Sementara itu, di sisi timur laut kota—yang merupakan milik Patriarkat Ortodoks Yunani Yerusalem—penggalian yang dipimpin Vassilios Tzaferis antara 1978 dan 1987 menemukan empat area utama.

Tim tersebut juga menemukan tembok laut sepanjang sekitar 200 meter yang kokoh, dengan dua penyangga tegak lurus yang memanjang ke arah danau, serta sejumlah 282 dinar emas dari masa peralihan Arab-Bizantium (bdk. Mattila, op. cit., hlm. 226-228).

Kehadiran Fransiskan

Hingga kini, setiap hari para frater Kustodi Tanah Suci menyambut para peziarah yang datang ke Kapernaum untuk mencari hubungan dengan “kota Yesus”, tempat yang dipandang-Nya, tempat suara-Nya bergema, dan tempat Ia melakukan karya-karya-Nya.

Kemegahan sinagoga putih, kesederhanaan rumah-rumah yang terbuat dari batu basal, Rumah Petrus yang pertama-tama menjadi domus ecclesia, kemudian basilika Bizantium, dan kini menjadi memorial yang didedikasikan kepada Santo Petrus, serta keheningan danau di hadapannya—semuanya berbicara tentang sebuah kehadiran yang oleh iman diyakini masih hidup.

Ketika memandang reruntuhan Kapernaum kuno, para peziarah dapat “melihat” rumah-rumah dan para penghuni desa kuno tersebut serta kisah-kisah Injil yang terjadi di sana.

Mereka dapat “mendengar” kembali sabda Yesus tentang Roti Hidup dan bersama Petrus mengakui:

“Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal” (Yoh 6:68).

07 Aug 2026, 17:46