Kardinal Pierbattista Pizzaballa menghadiri peresmian Global House of Friendship and Hope di Asisi, Italia. Kardinal Pierbattista Pizzaballa menghadiri peresmian Global House of Friendship and Hope di Asisi, Italia.   (ANSA)

Pizzaballa di Asisi: Umat Kristiani di Tanah Suci Lelah, Mereka Dambakan Perdamaian

Patriark Latin Yerusalem, Kardinal Pierbattista Pizzaballa, mengatakan umat Kristiani di Tanah Suci telah lelah hidup dalam ketidakpastian yang berkepanjangan. Berada di Asisi untuk meresmikan Global House of Friendship and Hope, ia mengungkapkan keprihatinannya atas situasi yang "bukan perang, tetapi juga bukan damai", seraya menegaskan bahwa masyarakat mendambakan perdamaian sejati.

Oleh Daniele Piccini – Asisi, Italia

Kardinal Pierbattista Pizzaballa, Patriark Latin Yerusalem, berada di Asisi dalam rangka kunjungan pastoral Paus Leo XIV pada 6 Agustus sekaligus menghadiri peresmian Global House of Friendship and Hope, sebuah proyek internasional yang diprakarsai oleh Elijah Interfaith Institute.

Dalam wawancara dengan Vatican Media, Kardinal Pizzaballa berbicara mengenai situasi terkini di Tanah Suci, termasuk menjelang pemilihan umum Israel yang akan berlangsung pada 27 Oktober. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak berharap pemilu akan menjadi solusi instan bagi seluruh persoalan di kawasan Timur Tengah.

"Semua orang memandang pemilu seolah-olah akan menyelesaikan semua persoalan. Padahal masalah-masalah di Timur Tengah membutuhkan waktu yang panjang untuk diselesaikan. Kita memerlukan wajah-wajah baru dan para pemimpin baru. Biarlah para pemilih yang menentukan," ujarnya.

Kekerasan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari

Kardinal Pizzaballa menggambarkan situasi di Yerusalem sebagai keadaan yang dipenuhi ketegangan.

Menurutnya, meskipun tidak terjadi perang terbuka dengan pemboman besar-besaran, kekerasan telah menjadi lensa yang membentuk hampir seluruh relasi kehidupan di Gaza, Tepi Barat, Israel, dan Palestina.

Ketika ditanya mengenai kondisi umat Kristiani yang terus menyaksikan harapan akan perdamaian berulang kali pupus, ia mengakui bahwa mereka mengalami kelelahan yang sangat mendalam.

"Sama seperti masyarakat lainnya, umat Kristiani sangat lelah dengan berbagai pengumuman yang menjanjikan penyelesaian, tetapi kemudian dibantah oleh kenyataan. Hal itu telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari."

Situasi tersebut, katanya, telah menumbuhkan rasa tidak percaya yang semakin besar di tengah masyarakat.

"Orang-orang bahkan tidak lagi percaya pada kabar baik ketika kabar itu benar-benar terjadi, karena mereka sudah terlalu lama tidak terbiasa mendengar berita yang membawa harapan."

Ia menyebut keadaan itu sebagai situasi yang sangat berat.

Harapan tetap hidup

Meski demikian, Kardinal Pizzaballa menegaskan bahwa harapan belum padam.

Menurutnya, masih banyak orang yang terus mengabdikan diri demi membangun perdamaian di Gaza, Tepi Barat, maupun Israel.

"Saya terus menjumpai kaum muda, juga para pria dan perempuan yang lebih tua, para profesor, dan banyak orang lain yang sebenarnya memiliki banyak hal yang bisa mereka kehilangan. Namun mereka tetap memilih membangun perjumpaan, membela sesama, dan memperjuangkan kemanusiaan."

Baginya, masih ada "antibodi" dalam masyarakat yang mencegah virus kekerasan menguasai seluruh kehidupan.

Membangun kembali kehidupan di Paroki Keluarga Kudus Gaza

Kardinal Pizzaballa juga berbicara mengenai kondisi Paroki Keluarga Kudus di Gaza yang beberapa bulan lalu terkena serangan roket Israel.

Paroki tersebut menjadi tempat perlindungan bagi ratusan warga, termasuk para lanjut usia dan penyandang disabilitas.

"Saat ini terdapat 541 orang di sana, dan kami mengenal mereka satu per satu."

Menurutnya, komunitas kecil itu perlahan berusaha kembali menjalani kehidupan normal.

Sekolah mulai dipersiapkan untuk dibuka kembali. Sebuah pusat kesehatan juga telah beroperasi. Selain para imam, para suster memainkan peranan yang sangat penting dalam menyelenggarakan berbagai kegiatan bagi anak-anak, bukan hanya bagi anak-anak Kristiani.

"Di tengah kehancuran yang luar biasa, kami berusaha menciptakan lingkungan yang sehat dan damai semampu kami."

Bahaya terbesar adalah hilangnya kepercayaan

Ketika ditanya mengenai kekhawatiran terbesarnya, Kardinal Pizzaballa menyoroti kondisi yang menurutnya paling berbahaya, yakni apabila masyarakat terus terjebak dalam keadaan "bukan perang, tetapi juga bukan damai."

"Yang paling saya khawatirkan adalah jika kita tetap berada dalam situasi yang serba menggantung ini, ketika orang terus berbicara mengenai solusi tanpa pernah benar-benar mewujudkannya."

Keadaan tersebut, katanya, akan melahirkan sikap sinis dan rasa tidak percaya yang semakin mendalam di hati masyarakat.

"Itulah bahaya terbesar yang saya lihat saat ini."

Kaum muda adalah harapan masa depan

Menjelang pertemuan Paus Leo XIV dengan kaum muda di Assisi, Kardinal Pizzaballa menegaskan pentingnya memberikan perhatian kepada generasi muda.

"Orang-orang tua adalah ingatan kita, tetapi kaum muda adalah harapan kita."

Karena itu, katanya, masa depan harus dibangun dengan penuh keyakinan.

"Kitalah yang harus berinvestasi pada mereka, belajar dari kesalahan-kesalahan kita sendiri, agar mereka dapat membangun sesuatu yang lebih baik daripada yang telah kita wariskan."

Paus selalu dekat dengan Tanah Suci

Kardinal Pizzaballa juga menegaskan bahwa Paus Leo XIV terus mengikuti dengan saksama perkembangan di Tanah Suci.

"Bapa Suci sangat dekat dengan kami dan mengetahui dengan baik segala sesuatu yang sedang terjadi. Kehadiran beliau sangat berarti."

Mengenai kemungkinan kunjungan Paus ke Tanah Suci, ia mengatakan bahwa kunjungan tersebut pasti akan terjadi pada waktunya, tetapi harus berlangsung dalam suasana yang damai.

Ia juga mengajak agar peringatan 40 tahun Pertemuan Doa Lintas Agama di Asisi yang diprakarsai Santo Yohanes Paulus II pada tahun 1986 tidak hanya menjadi nostalgia sejarah.

Menurutnya, momen tersebut hendaknya menjadi awal perjalanan baru dalam membangun dialog antaragama dan perdamaian dunia, dengan bertolak dari pengalaman masa lalu sekaligus menjawab tantangan zaman sekarang.

06 Aug 2026, 11:24