Paus saat Angelus : Bahkan Ketika Bingung Seperti Petrus, Tetaplah Berdialog dengan Tuhan
Deborah Castellano Lubov
“Dalam kehidupan iman dan doa kita, semoga kita memiliki ketulusan yang sama seperti Petrus, dengan rendah hati menyampaikan kepada Yesus apa yang sungguh-sungguh kita rasakan, bahkan ketika hati kita sedang diliputi kebingungan.”
Paus Leo XIV menyampaikan nasihat tersebut dalam doa Angelus pada hari Minggu di Castel Gandolfo, tempat ia bermalam setelah mengikuti prosesi Maria Our Lady of the Lake di Danau Albano pada malam sebelumnya.
Dalam katekesenya, Bapa Suci mengingat kembali bacaan Injil hari itu menurut Santo Matius, ketika Yesus menyingkapkan kepada para murid misteri Sengsara, Wafat, dan Kebangkitan-Nya yang akan datang.
Sifat manusia
Paus mengakui bahwa apa yang dikatakan Tuhan sangat jauh dari harapan mereka akan seorang Mesias yang berjaya dan berkuasa, yang dengan pertolongan-Nya akan mengalahkan musuh-musuh mereka. Petrus pun menyatakan ketidaksetujuannya dan, dalam keterkejutan serta kekecewaan, menegur Yesus dengan berkata: “‘Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.’”
Paus mengatakan bahwa hal ini mengajak kita untuk merenungkan sifat manusiawi kita.
“Bagi kita juga,” ujarnya, “tidak selalu mudah untuk memahami dan menerima jalan-jalan Tuhan, terutama ketika jalan-jalan itu sangat jauh dari jalan kita sendiri.”
Ia juga mengakui bahwa “muncul godaan, bertentangan dengan seluruh penalaran iman, untuk berpikir bahwa Tuhanlah yang keliru,” atau “lebih buruk lagi, bahwa Ia tidak mendengarkan kita atau tidak memedulikan kita”.
Santo Petrus mengajarkan pelajaran penting
Dalam menghadapi ketidakpastian ini, Paus Leo menegaskan bahwa Petrus, bahkan dalam sikapnya yang impulsif, mengajarkan dua hal penting.
“Yang pertama adalah, bahkan dalam saat-saat seperti itu,” katanya, “jangan pernah berhenti berdialog dengan Tuhan.”
Sebaliknya, ia mengusulkan, “dengan penuh keyakinan kita menyampaikan kepada-Nya kesulitan kita dalam memahami apa yang Ia minta dari kita.”
Yang kedua, lanjutnya, “adalah jangan pernah menghakimi karya Tuhan, melainkan dengan rendah hati dan dalam doa mendengarkan apa yang Ia nyatakan kepada kita melalui tindakan-tindakan-Nya, bahkan ketika hal-hal itu tidak sesuai dengan harapan kita.”
Paus Leo mengatakan bahwa kebesaran Rasul pertama juga tampak dalam hal ini.
Yesus kemudian menjawab Petrus, “Enyahlah dari hadapan-Ku, Iblis!” dan menjelaskan kepadanya serta para murid lainnya bahwa untuk mengikuti jejak-Nya, mereka harus menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti-Nya, sambil menunjukkan kepada umat beriman bahwa “Petrus akan melakukan hal itu”.
“Setelah mendengarkan Dia, Petrus,” kata Paus, “akan menerima tantangan itu dan tetap setia pada sabda Kristus, yang telah ia kenali sebagai Penebusnya, sepanjang sisa hidupnya, bahkan sampai mati sebagai martir.”
Ketaatan Bunda Maria kepada Putranya bahkan di kaki Salib
Karena itu, Bapa Suci mengajak umat beriman untuk bersama-sama memohon kepada Tuhan “agar kita juga, dalam kehidupan iman dan doa kita, memiliki ketulusan yang sama seperti Petrus, dengan rendah hati menyampaikan kepada Yesus apa yang sungguh-sungguh kita rasakan, bahkan ketika hati kita sedang diliputi kebingungan”.
“Pada saat yang sama,” lanjutnya, “semoga kita memupuk sikap kesiapsediaan Petrus sendiri untuk menerima apa yang Yesus minta dari kita, melampaui harapan-harapan kita.”
Paus Leo menutup dengan berdoa agar Perawan Maria yang Terberkati, yang “taat pada rencana Allah bahkan di kaki salib Putranya, Yesus”, menolong kita melalui teladannya.
