Polisi menyelamatkan warga yang terjebak dari sebuah rumah yang tertimbun lumpur, Nepal Polisi menyelamatkan warga yang terjebak dari sebuah rumah yang tertimbun lumpur, Nepal   (AFP or licensors)

Paus Leo berdoa bagi para korban banjir dahsyat di Nepal

Paus Leo XIV menyampaikan dukacitanya atas hilangnya banyak nyawa akibat banjir bandang dahsyat di Nepal. Ia meyakinkan mereka yang terdampak akan kedekatan spiritualnya serta mendoakan para petugas penyelamat yang sedang mencari ratusan orang yang masih hilang.

Vatican News

Paus Leo XIV menyampaikan dukacita yang mendalam atas hilangnya banyak nyawa dan kehancuran luas yang disebabkan oleh banjir bandang di Nepal.

Dalam sebuah telegram yang dikirim pada hari Kamis dan ditandatangani oleh Kardinal Sekretaris Negara Pietro Parolin, Paus menyerahkan jiwa mereka yang meninggal dunia “kepada belas kasih Yang Mahakuasa” serta menyampaikan belasungkawa yang tulus kepada keluarga yang ditinggalkan.

Ia juga meyakinkan semua orang yang terdampak bencana akan kedekatan spiritualnya dan mendoakan para petugas tanggap darurat yang terlibat dalam operasi pencarian dan penyelamatan yang masih berlangsung.

Telegram tersebut ditutup dengan doa Paus agar Allah senantiasa memberikan pertolongan dan perlindungan kepada rakyat Nepal.

Ratusan orang meninggal atau hilang

Lebih dari 350 orang telah meninggal dunia di Nepal, sementara lebih dari 900 lainnya masih belum diketahui keberadaannya setelah arus deras air, lumpur, dan puing-puing melanda sejumlah komunitas di dekat perbatasan utara negara itu dengan Tiongkok. Jumlah korban meninggal diperkirakan akan terus meningkat seiring ditemukannya jenazah-jenazah di bawah timbunan puing.

Ratusan orang lainnya juga masih hilang di wilayah Tibet yang bertetangga, sehingga jumlah total orang yang belum diketahui keberadaannya di seluruh wilayah terdampak mencapai hampir 1.500 orang.

Bencana tersebut diyakini dipicu oleh runtuhnya sebagian gletser di Pegunungan Himalaya, yang mengirimkan gelombang air secara tiba-tiba ke sistem sungai di sepanjang perbatasan Nepal–Tiongkok. Para ilmuwan mengatakan kekuatan runtuhan itu begitu besar sehingga getaran yang ditimbulkannya pada awalnya disangka sebagai gempa bumi.

Seluruh permukiman terendam, sementara jalan-jalan, jembatan, instalasi listrik, dan berbagai infrastruktur penting lainnya hancur atau mengalami kerusakan parah. Banjir juga menerjang sebuah jalur penyeberangan perbatasan utama, sehingga memutus jalur transportasi dan perdagangan.

Banyak dari mereka yang masih hilang adalah pengunjung asing yang melakukan perjalanan ke wilayah tersebut untuk berziarah ke Gunung Kailash dan Danau Mansarovar, tempat-tempat yang dianggap suci oleh umat Hindu, Buddha, Jain, dan para pengikut agama Bon.

Operasi penyelamatan terus berlanjut

Ribuan tentara, polisi, dan petugas tanggap darurat telah dikerahkan ke berbagai wilayah terdampak. Helikopter digunakan untuk menjangkau komunitas-komunitas yang terisolasi, mengevakuasi para penyintas, serta mengirimkan makanan, pasokan medis, dan berbagai bentuk bantuan darurat lainnya.

Operasi tersebut diperumit oleh kerusakan jalan, medan pegunungan yang sulit, serta ancaman tanah longsor dan banjir susulan yang masih terus berlanjut.

Bantuan internasional mulai berdatangan. Negara-negara tetangga, Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan organisasi-organisasi kemanusiaan menawarkan tenaga bantuan, perlengkapan, serta dukungan finansial.

Tragedi ini juga kembali menimbulkan kekhawatiran mengenai meningkatnya ancaman ketidakstabilan gletser di Himalaya, di mana kenaikan suhu mempercepat pencairan dan penyusutan gletser.

27 Aug 2026, 12:48