Paus Leo XIV merayakan misa di Paroki Sant Thomas dari Villanova di Castel Gondolfo pada 15 Agustus 2026 Paus Leo XIV merayakan misa di Paroki Sant Thomas dari Villanova di Castel Gondolfo pada 15 Agustus 2026   (@VATICAN MEDIA)

Paus Leo: Liturgi Harus Memupuk Iman, Persaudaraan, dan Perdamaian

Paus Leo XIV menyampaikan salam kepada para peserta Pekan Liturgi Nasional ke-76 di Italia dan mendorong Gereja untuk mengembalikan liturgi pada tempat sentralnya dalam pembinaan Kristiani.

Vatican News

Paus Leo XIV menyerukan kepada Gereja untuk memperkuat hubungan antara katekese dan perayaan liturgi agar inisiasi Kristiani dapat menuntun orang kepada Kristus.

Paus menyampaikan salam tersebut dalam sebuah pesan kepada para peserta Pekan Liturgi Nasional ke-76 yang berlangsung di kota Catania, Italia.

Acara tersebut berlangsung pada 24–27 Agustus dengan tema, “Gereja yang melahirkan: Liturgi dan Inisiasi Kristiani.”

Pesan yang ditandatangani oleh Kardinal Sekretaris Negara Pietro Parolin itu menggambarkan tema tersebut sebagai sesuatu yang “sangat penting” bagi Gereja saat ini.

Paus Leo mengingatkan bahwa inisiasi Kristiani tidak dapat dipahami semata-mata sebagai “persiapan untuk Sakramen-Sakramen”.

Sebaliknya, katanya, inisiasi Kristiani harus menjadi “rahim” tempat sebuah komunitas melahirkan iman dan persekutuan dengan Tuhan.

Paus menunjuk pada kesatuan antara katekese dan perayaan yang telah menandai Gereja sejak awal, ketika orang-orang Kristen pertama “bertekun dalam pengajaran para rasul dan dalam persekutuan, dalam pemecahan roti dan dalam doa.”

Karena itu, ia mengundang komunitas-komunitas Kristiani untuk kembali kepada sumber tersebut dengan memperkuat nilai liturgi dalam pembinaan Kristiani.

Dalam liturgi, kata Paus Leo, “misteri Kristus merangkul kita, mengubah kita, dan menjadikan kita ciptaan baru.”

Dengan merujuk pada katekese-katekesenya mengenai Konstitusi Konsili Vatikan II Sacrosanctum Concilium, Paus menegaskan bahwa ritus-ritus liturgi Kristiani merupakan “pengantaraan gerejawi yang melaluinya karunia ilahi sampai kepada kita.”

Pemahaman ini, katanya, menuntut Gereja untuk menemukan kembali makna yang lebih mendalam dari gerak-gerak dan simbol-simbol liturgi sebagai ungkapan actuosa participatio—partisipasi aktif umat beriman.

Oleh karena itu, umat Katolik, terutama mereka yang baru memulai perjalanan iman, hendaknya diperkenalkan kepada bentuk-bentuk perayaan yang membuka hati mereka terhadap karya Allah.

Paus juga merenungkan dimensi komunal dari liturgi.

Ia mengatakan bahwa liturgi membentuk umat Kristiani dalam persekutuan, karena liturgi dirayakan sebagai tindakan satu tubuh gerejawi, yang menuntut penghormatan dan kesetiaan terhadap ritus-ritus.

Paus Leo mendorong para pastor dan katekis untuk mengajarkan umat agar menghargai “kekhidmatan yang sederhana dari gerak-gerak liturgi”, dengan membantu mereka memahami dan mengalami maknanya dalam segala kekayaannya.

Ia menyebut liturgi sebagai “tempat istimewa untuk mendengarkan Sabda Allah” melalui pewartaan Kitab Suci.

Sebagai penutup, Paus Leo XIV mendorong para pemimpin pastoral dalam Gereja untuk menumbuhkan sikap penerimaan, mistagogi, dan kesaksian hidup.

“Hanya dengan cara inilah,” katanya, “iman yang lahir dari altar akan mampu menjangkau jalan-jalan kehidupan manusia, menghasilkan buah-buah kebaikan, rekonsiliasi, dan perdamaian.”

25 Aug 2026, 10:05