Vatikan Soroti Ancaman dan Harapan AI: “Bagaimana Menjaga Kemanusiaan di Era Kecerdasan Buatan”

Para pembicara utama dalam sesi sore Konferensi Internasional tentang Kecerdasan Buatan di Vatikan menggambarkan potret suram tentang apa yang bisa menjadi masa depan distopia bagi umat manusia seiring AI yang kian membentuk realitas kita. Namun, mereka juga menyampaikan harapan dan optimisme seiring panggilan bagi pria dan wanita yang berkehendak baik untuk mengambil tindakan demi kepentingan bersama.

VATIKAN — Para pembicara dalam Konferensi Internasional tentang Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) di Vatikan mengingatkan dunia mengenai ancaman serius perkembangan teknologi digital terhadap masa depan kemanusiaan. Namun di tengah peringatan itu, konferensi juga menghadirkan harapan bahwa manusia masih memiliki kemampuan untuk mengarahkan teknologi demi kebaikan bersama.

Konferensi bertajuk “Preserving Human Faces and Voices” atau “Menjaga Wajah dan Suara Manusia” digelar di Universitas Kepausan Urbaniana, Vatikan, Kamis (28/5). Acara tersebut menghadirkan tokoh-tokoh dari dunia teknologi digital, pendidikan, budaya, hingga perwakilan UNESCO.

Tema konferensi diambil dari pesan Paus Leo XIV untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia serta berkaitan erat dengan ensiklik mendatang Paus berjudul Magnifica humanitas yang membahas perlindungan martabat manusia di era kecerdasan buatan.

Dalam konferensi itu, para peserta membahas tiga pilar utama yang ditekankan Paus Leo XIV, yakni tanggung jawab, kerja sama, dan pendidikan sebagai fondasi menghadapi perkembangan AI.

AI dan ancaman hilangnya kemanusiaan

Profesor pembelajaran mesin dari Universitas Cambridge, Neil Lawrence, memperingatkan bahwa dunia sedang berada di persimpangan penting ketika wajah manusia berisiko digantikan algoritma dan suara manusia tenggelam dalam reproduksi digital sintetis.

“Teknologi harus tetap menjadi alat yang melayani manusia, bukan menjadikan manusia sebagai pihak yang tunduk kepada teknologi,” katanya.

Senada dengan itu, Daniel Dzuban dari Coalition for Content Provenance and Authenticity menekankan bahwa tanggung jawab dalam pengembangan AI berarti memastikan teknologi tetap menghormati martabat manusia dan tidak sekadar mengejar keuntungan ekonomi.

Para pembicara juga menggambarkan kemungkinan masa depan distopia yang dipenuhi pengawasan ekstrem, manipulasi digital melalui deepfake, serta keterasingan sosial yang semakin dalam.

Namun mereka menegaskan bahwa masa depan semacam itu bukan sesuatu yang tak terhindarkan, melainkan sebuah peringatan agar dunia segera bertindak.

Daniel Dzuban berbicara kepada Vatican News (Bahasa Inggris)

Kerja sama global demi kebaikan bersama

Untuk menghadapi ancaman tersebut, konferensi menyerukan terbentuknya kerja sama global antara perusahaan teknologi, pemerintah, kalangan akademik, pemimpin agama, dan masyarakat sipil.

Menurut para peserta, perkembangan algoritma harus diimbangi dengan perkembangan moral dan etika. Tidak ada satu negara atau perusahaan yang mampu mengendalikan perkembangan AI generatif sendirian.

Karena itu, solidaritas internasional dinilai penting agar kesenjangan digital tidak berkembang menjadi jurang sosial baru yang sulit dijembatani.

Pendidikan bukan sekadar soal teknologi

Pilar ketiga yang menjadi perhatian utama konferensi adalah pendidikan. Para pembicara menegaskan bahwa pendidikan di era AI tidak boleh hanya berfokus pada keterampilan teknis dan pemrograman komputer.

Sebaliknya, pendidikan harus membantu manusia mengembangkan kemampuan berpikir kritis, empati, dan kebijaksanaan moral.

Para akademisi dan perwakilan UNESCO menekankan pentingnya literasi media dan informasi agar generasi muda mampu membedakan kebenaran dari manipulasi digital serta memahami perbedaan antara kehadiran manusia yang nyata dan sekadar konektivitas virtual.

“Berpikir, berjejaring, dan belajar di era AI berarti mengajarkan kaum muda bukan hanya cara menggunakan teknologi, tetapi juga bagaimana tetap menjadi manusia yang utuh ketika menggunakannya,” ujar salah seorang pembicara.

Masa depan belum ditentukan

Meski banyak peringatan mengenai bahaya bias algoritma dan menurunnya relasi manusia yang autentik, suasana konferensi tetap dipenuhi optimisme.

Para peserta sepakat bahwa masa depan AI belum ditentukan sepenuhnya. Manusia masih memiliki kemampuan untuk mengarahkan perkembangan teknologi agar sungguh melayani kebaikan bersama.

Uskup Paul Tighe, Sekretaris Dikasteri Kebudayaan dan Pendidikan Vatikan yang menjadi penyelenggara konferensi bersama Dikasteri Komunikasi, mengatakan bahwa pesan terpenting dari konferensi tersebut adalah penolakan terhadap sikap pasif menghadapi perkembangan AI.

“Tidak ada sesuatu yang tak terelakkan mengenai masa depan AI,” katanya.

Ia memperkenalkan istilah “we-gency”, yakni kemampuan bertindak bersama melalui komunitas demi membangun masa depan yang lebih manusiawi.

Menurut Uskup Tighe, tanggung jawab moral dalam penggunaan AI berarti manusia harus terus bertanya kapan teknologi perlu digunakan dan kapan manusia harus memilih untuk tidak menyerahkan segalanya kepada AI demi menjaga kebebasan dan kesadaran manusia sendiri.

Ia juga menegaskan bahwa tantangan AI menyentuh seluruh aspek kehidupan, mulai dari ekonomi, pendidikan, komunikasi, hingga isu perang dan perdamaian. Karena itu, penyelesaiannya tidak bisa dilakukan secara terpisah.

“Kita harus menghadapinya bersama-sama,” ujarnya.

Konferensi tersebut ditutup dengan seruan bersama agar perkembangan teknologi tetap diarahkan untuk melayani martabat manusia, menjaga wajah dan suara manusia tetap hidup di tengah dunia digital yang terus berkembang cepat.

Video Rekap dari Konfrensi
21 May 2026, 21:57