Gaza Hadapi Ancaman Penyakit Menular
oleh Nathan Morley
GAZA — Warga sipil di Jalur Gaza kini tidak hanya menghadapi kekerasan perang yang terus berlangsung, tetapi juga ancaman serius penyebaran penyakit menular akibat runtuhnya sistem kesehatan dan terbatasnya akses terhadap bantuan medis.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa situasi kesehatan di Gaza semakin memburuk karena berbagai peralatan medis penting dan bahan laboratorium masih tertahan dan tidak dapat masuk ke wilayah tersebut.
Perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dr. Renée Van de Weerdt, mengatakan kepada wartawan di Jenewa bahwa tenaga kesehatan di Gaza kini kesulitan mendeteksi dan memantau potensi wabah penyakit berbahaya.
“Kami berbicara tentang hantavirus, bahkan virus Ebola. Ini bukan barang mewah. Ini adalah peralatan yang kami butuhkan untuk menyelamatkan nyawa,” ujarnya.
Menurut WHO, kondisi kepadatan pengungsian, meningkatnya populasi tikus, serta runtuhnya sistem air bersih dan sanitasi membuat deteksi dini penyakit menjadi sangat penting.
Di tengah kondisi tersebut, sistem kesehatan Gaza terus mengalami kemerosotan tajam.
WHO mencatat sedikitnya 22 serangan terhadap fasilitas kesehatan terjadi sepanjang tahun ini. Saat ini hanya sekitar separuh rumah sakit di Gaza yang masih beroperasi sebagian, sementara tidak ada satu pun rumah sakit yang berfungsi sepenuhnya.
Meski menghadapi keterbatasan besar, WHO menyebut telah membantu otoritas lokal mengevakuasi ribuan pasien ke lebih dari 30 negara untuk mendapatkan perawatan medis.
Sementara itu, upaya memperluas layanan kesehatan khusus di Gaza juga dilakukan oleh Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA). Namun larangan operasi terhadap lembaga tersebut oleh Israel disebut sangat mengganggu pelayanan kemanusiaan.
UNRWA melaporkan telah memberikan sekitar 4,5 juta layanan konsultasi medis sepanjang tahun lalu. Namun sejak perang dimulai, hampir 400 staf lembaga itu dilaporkan tewas.
Dalam sidang Dewan Keamanan PBB pada Kamis, Wakil Koordinator Khusus PBB untuk Proses Perdamaian Timur Tengah, Ramiz Alakbarov, memperingatkan bahwa kondisi kemanusiaan di Gaza masih sangat mengkhawatirkan.
Ia mengatakan keterlambatan pelaksanaan rencana perdamaian yang didukung Dewan Keamanan PBB berisiko menghancurkan kemajuan rapuh yang sempat tercapai sejak gencatan senjata.
“Masyarakat Gaza tidak sanggup menghadapi perang lebih lanjut,” kata Alakbarov, seraya mendesak semua pihak mencegah kembali pecahnya konflik berskala besar.
Di sisi lain, kekurangan pendanaan juga memperburuk respons kemanusiaan internasional.
PBB menyebut rencana bantuan kemanusiaan untuk Wilayah Pendudukan Palestina baru menerima sekitar 540 juta dolar AS dari total kebutuhan sebesar 4,06 miliar dolar AS.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa krisis di Gaza kini tidak hanya menjadi persoalan konflik bersenjata, tetapi juga ancaman kesehatan publik yang berpotensi menimbulkan bencana kemanusiaan jangka panjang.