Serangan di Lebanon Meningkat, Korban Tewas dan Pengungsian Bertambah
Oleh Nathan Morley
BEIRUT — Serangan militer Israel di wilayah Lebanon selatan kembali meningkat di tengah memburuknya konflik regional yang juga melibatkan ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi tersebut memperdalam krisis kemanusiaan dan menyebabkan semakin banyak korban jiwa serta pengungsian warga sipil.
Militer Israel pada Kamis melancarkan serangkaian serangan yang menargetkan infrastruktur Hizbullah di Lebanon selatan.
Serangan itu terjadi sehari setelah Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengeluarkan peringatan evakuasi bagi warga agar bergerak ke utara Sungai Zahrani. Dalam peringatannya, Israel menyatakan akan menggunakan “kekuatan ekstrem” dalam operasi militer berikutnya.
Perintah evakuasi tersebut disebut sebagai yang terbesar sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 17 April lalu.
Israel dan Hizbullah saling menuduh melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang rapuh tersebut.
Menurut data terbaru, hampir satu juta orang masih mengungsi di berbagai wilayah Lebanon sejak eskalasi konflik yang dimulai pada 2 Maret.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 3.213 orang telah tewas sejak perang berlangsung, meskipun data tersebut tidak membedakan antara warga sipil dan kombatan.
Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sedikitnya 169 serangan terhadap tenaga kesehatan dan fasilitas medis, yang mengakibatkan 116 korban jiwa.
Di pihak Israel, pemerintah menyebut 23 tentara dan empat warga sipil tewas di kedua sisi perbatasan selama periode konflik yang sama.
Ketegangan AS-Iran Memanas
Di saat bersamaan, konflik antara Amerika Serikat dan Iran kini memasuki bulan keempat.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan telah menargetkan sebuah pangkalan militer Amerika di kawasan Timur Tengah setelah serangan baru Amerika Serikat terhadap wilayah Iran bagian selatan.
IRGC tidak menjelaskan lokasi pangkalan yang dimaksud. Namun, pemerintah Kuwait — yang menjadi lokasi salah satu pangkalan militer AS — mengatakan berhasil mencegat ancaman rudal dan drone yang disebut bersifat “bermusuhan”.
Sebelumnya, militer Amerika Serikat mengklaim telah menembak jatuh sejumlah drone Iran di Selat Hormuz dan menyerang sebuah fasilitas militer Iran.
Washington menyebut serangan terbaru itu dilakukan sebagai tindakan membela diri. Operasi tersebut menjadi aksi militer kedua yang dilakukan Amerika Serikat dalam tiga hari terakhir.
Meningkatnya kembali aksi saling serang antara Washington dan Teheran kini menimbulkan kekhawatiran baru terhadap keberlangsungan gencatan senjata yang selama ini dinilai sangat rapuh.
Situasi tersebut juga memicu kekhawatiran internasional mengenai potensi meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah yang sudah dilanda ketidakstabilan berkepanjangan.