AS Lancarkan Serangan Baru saat Iran Menutup Selat Hormuz
Oleh Nathan Morley
Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan baru sebagai tanggapan atas serangan pasukan Iran terhadap sebuah kapal yang melintas di Selat Hormuz. Televisi Iran melaporkan bahwa serangan terjadi di sejumlah wilayah di negara itu.
Menurut laporan dari kawasan, serangan Amerika Serikat menghantam sekitar 140 sasaran militer Iran selama akhir pekan, termasuk lokasi rudal dan pesawat nirawak (drone), jaringan komunikasi, serta pos-pos pengawasan pantai.
Hari Minggu, militer Iran menyatakan telah menutup Selat Hormuz "hingga pemberitahuan lebih lanjut" dan melancarkan serangan terhadap pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat serta negara-negara sekutunya. Iran mengklaim telah menyerang sebuah pangkalan militer AS di Yordania, sementara Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, dan Bahrain menyatakan berhasil mencegat rudal serta drone yang diluncurkan Iran.
Eskalasi terbaru ini terjadi setelah serangan terhadap tiga kapal tanker komersial pada awal pekan.
Pada Sabtu, Washington mendesak Teheran untuk secara terbuka menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka bagi pelayaran dan menghentikan serangan terhadap kapal-kapal niaga.
Media Amerika Serikat melaporkan bahwa sejumlah pejabat Iran secara tertutup mengatakan kepada para penasihat Presiden Donald Trump bahwa serangan terhadap kapal-kapal tanker tersebut merupakan kesalahan yang dilakukan oleh sebuah faksi yang bertindak di luar kendali. Kedua negara diketahui telah menandatangani gencatan senjata pada bulan Juni yang mencakup jaminan keamanan bagi pelayaran komersial.
Presiden Trump juga menanggapi laporan mengenai dugaan rencana Iran untuk membunuh dirinya. Ia memperingatkan bahwa militer Amerika Serikat akan "meluluhlantakkan dan menghancurkan sepenuhnya seluruh wilayah Iran" apabila upaya tersebut benar-benar dilakukan.
Situasi Kemanusiaan di Gaza Kian Memburuk
Di tempat lain, para pejabat kesehatan di Gaza memperingatkan bahwa krisis medis semakin memburuk akibat kekurangan obat-obatan, peralatan medis, dan layanan ambulans.
Mohammed Abu Afash, Direktur Medical Relief Organization, mengatakan bahwa konvoi bantuan medis yang dijanjikan belum juga tiba sejak diberlakukannya gencatan senjata. Akibatnya, persediaan perlengkapan pemeriksaan medis mengalami kekurangan yang sangat besar dan mengancam pelayanan kesehatan bagi ratusan ribu pasien.