Bukit Capitolina, Roma Bukit Capitolina, Roma   (Copyright © Nicola Forenza)

Para Peraih Nobel Menandatangani Deklarasi Roma tentang Senjata Nuklir dan AI

Para peraih Nobel, pakar dan ilmuwan internasional, pemimpin agama, serta mantan kepala negara dan pemerintahan berkumpul di Bukit Capitolina, Roma, untuk menandatangani Rome Declaration for an Unarmed and Disarming Peace (Deklarasi Roma untuk Perdamaian Tanpa Senjata dan Pelucutan Senjata) di Era Kecerdasan Buatan dan Senjata Nuklir. Seruan bersama tersebut, yang lahir di tengah tantangan besar yang ditimbulkan oleh senjata nuklir dan kecerdasan buatan (AI), mengajak dunia memperbarui kerja sam

Oleh Deborah Castellano Lubov

Rome Declaration for an Unarmed and Disarming Peace in the Age of Artificial Intelligence, Nuclear and Autonomous Weapons, New Digital Protocols, and Emerging Models of Digital Development ditandatangani pada Kamis, 16 Juli, di Bukit Capitolina, Roma, sebagai puncak dari Global Nobel Laureates Assembly on Artificial Intelligence and Nuclear War.

Majelis tersebut mempertemukan lebih dari 200 tokoh paling berpengaruh di dunia serta perwakilan lembaga-lembaga penelitian internasional terkemuka di bidang perdamaian dan kecerdasan buatan. Pertemuan ini terinspirasi oleh ensiklik Paus Leo XIV, Magnifica Humanitas, yang didedikasikan untuk perlindungan pribadi manusia di era kecerdasan buatan.

Vatikan menjadi tuan rumah penyelenggaraan acara tersebut pada 14–15 Juli di Borgo Laudato Si’ yang terletak di Taman Kepausan Castel Gandolfo. Pertemuan itu ditutup pada 16 Juli melalui sidang resmi di Balai Kota Roma di Bukit Capitolina.

Acara pagi diawali dengan sambutan resmi dari Wali Kota Roma, Roberto Gualtieri.

Selanjutnya, Profesor Daniel Holz dari Universitas Chicago, Direktur Pendiri Existential Risk Lab (X Lab), secara lugas mengingatkan para peserta bahwa “kabar buruknya” adalah dunia sedang berada dalam “masa bahaya yang belum pernah terjadi sebelumnya.” Namun, menurutnya, “kabar baiknya adalah masih banyak hal yang dapat kita lakukan untuk membuat diri kita lebih aman dari ancaman senjata nuklir maupun AI.”

Kardinal Reina: Tidak Ada Mesin atau Algoritma yang Boleh Menentukan Persoalan Eksistensial

Vikaris Jenderal Roma, Kardinal Baldo Reina, mengatakan bahwa Deklarasi Roma memiliki makna yang sangat penting pada masa sekarang.

“Deklarasi ini hadir pada saat yang ditandai oleh perubahan yang sangat cepat dan risiko yang mendalam: kecerdasan buatan, senjata nuklir, ketidakstabilan geopolitik, krisis multilateralisme, serta godaan untuk menyerahkan keamanan kepada rasa takut, pencegahan melalui ancaman, dan saling mengintimidasi,” katanya.

Kardinal Reina menegaskan bahwa umat manusia saat ini berada pada “momen penentu” dalam sejarah.

“Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menawarkan peluang luar biasa bagi pelayanan kesehatan, pendidikan, kesehatan masyarakat, perlindungan lingkungan, perjuangan melawan kemiskinan, dan pembangunan perdamaian. Namun kemajuan yang sama, jika dipisahkan dari etika, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap martabat manusia, dapat berubah menjadi instrumen dominasi, eksklusi, bahkan kehancuran.”

Menurutnya, deklarasi yang dipresentasikan hari itu mengingatkan semua pihak dengan sangat jelas bahwa tidak ada mesin, algoritma, atau sistem otonom yang dapat ditempatkan sebagai pusat pengambilan keputusan yang menentukan kelangsungan hidup umat manusia.

Ia menegaskan bahwa “keputusan yang menyangkut hidup dan mati, perdamaian dan perang, serta masa depan bangsa-bangsa dan generasi mendatang harus tetap berada di bawah kendali manusia yang penuh, bertanggung jawab, dan bermakna.”

AI Dapat Mendorong Manusia untuk Membangun atau Menghancurkan

Sementara itu, Pastor Andrea Ciucci, Kanselir Akademi Kepausan untuk Kehidupan, merefleksikan kemampuan kreatif manusia.

Ia mengamati bahwa di satu sisi manusia mampu menciptakan karya-karya yang luar biasa, tetapi di sisi lain kecerdikan manusia juga dapat menimbulkan kehancuran besar.

Menurutnya, AI dan energi nuklir tidak terkecuali.

“AI dapat mendorong manusia untuk membangun ataupun menghancurkan,” ujarnya.

Kardinal Silvano Maria Tomasi dan peraih Nobel Perdamaian Profesor Maria Ressa dari Universitas Columbia juga menyampaikan pandangan yang kuat mengenai perlombaan senjata dan perlunya kompas moral di tengah masa yang penuh risiko yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Kelangsungan Hidup Kita Sedang Dipertaruhkan

Profesor David Gross, peraih Hadiah Nobel Fisika sekaligus Chancellor’s Chair Professor of Theoretical Physics di University of California, mengatakan bahwa penilaiannya terhadap bahaya senjata nuklir kini jauh lebih besar dibandingkan 30 tahun lalu.

Ia menyesalkan hilangnya berbagai perjanjian pengendalian senjata serta kenyataan bahwa kini terdapat sembilan negara yang memiliki senjata nuklir.

“Kita berada di tengah perlombaan senjata yang semakin dipercepat,” katanya.

Menurut Profesor Gross, masyarakat dunia tidak lagi dapat mengabaikan ancaman-ancaman tersebut karena dampaknya bukan hanya terhadap kehidupan mereka sendiri, tetapi juga terhadap anak-anak dan cucu-cucu mereka.

Merujuk pada Deklarasi Roma, Profesor Gross menekankan bahwa rekomendasi yang diajukan sebenarnya sederhana dan telah lama didengar sebelumnya.

Ia menyoroti salah satu seruan utama deklarasi tersebut:

“Kami meminta negara-negara pemilik senjata nuklir untuk mempromosikan kebijakan yang mengurangi risiko perang, perang nuklir, dan pemusnahan.”

Ia mengatakan bahwa semua peserta yang terinspirasi oleh kata-kata Paus, Gereja, dan setiap orang yang memiliki kepekaan moral harus bertindak nyata.

“Ingatlah kemanusiaanmu dan lupakan yang lainnya,” ulang peraih Nobel tersebut, sambil mengingatkan bahwa kelangsungan hidup kita dan generasi-generasi mendatang benar-benar sedang dipertaruhkan.

Duta Perdamaian Sharon Stone juga turut berbicara. Ia menegaskan bahwa ketika kemampuan mesin terus berkembang, upaya moral dari mereka yang menciptakannya juga harus berkembang.

Bersatu dalam tujuan demi kebaikan bersama dan penghormatan terhadap setiap pribadi manusia, Sharon Stone menegaskan:

“Martabat manusia bukanlah sebuah algoritma.”

16 Jul 2026, 12:43