Cari

FILE PHOTO: Illustration Menunjukan tulisan "AI artificial intelligence", dengan keyboard dan tangan robot FILE PHOTO: Illustration Menunjukan tulisan "AI artificial intelligence", dengan keyboard dan tangan robot  (REUTERS)

Perspekti Orang Afrika tentang AI

konferensi internasional yang diselenggarakan oleh Dikasteri Komunikasi dan digelar di Universitas Kepausan Urbaniana pekan lalu menghadirkan para panelis yang merefleksikan pentingnya menjaga wajah dan suara manusia, seraya menekankan perlunya melindungi martabat, identitas, dan kreativitas manusia di tengah kemajuan teknologi.

oleh Christine Masivo, CPS

ROMA
– Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) terus mengubah wajah dunia dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di satu sisi, teknologi ini membuka peluang besar bagi inovasi dan kemajuan. Namun di sisi lain, AI juga memunculkan pertanyaan serius tentang etika, martabat manusia, identitas budaya, hingga masa depan relasi antarmanusia.

Isu-isu tersebut menjadi perhatian utama dalam konferensi internasional bertajuk “Preserving Human Voices and Faces” yang diselenggarakan Dikasteri Komunikasi Vatikan di Universitas Kepausan Urbaniana, Roma, pada 21 Mei 2026. Terinspirasi pesan Paus Leo XIV untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60, konferensi ini mempertemukan jurnalis, ilmuwan, ahli etika, akademisi, dan komunikator dari berbagai negara untuk membahas tantangan AI di era digital.

Para peserta menegaskan pentingnya menjaga martabat manusia, relasi yang autentik, serta komunikasi yang etis di tengah perkembangan teknologi yang semakin masif. Mereka juga memperingatkan bahaya deepfake, disinformasi, bias algoritma, hingga eksklusi digital yang semakin nyata di berbagai belahan dunia.

Salah satu pembicara, Dr. Joy Buolamwini, menyebut konferensi tersebut sebagai salah satu diskusi AI paling kaya yang pernah ia ikuti karena menghadirkan banyak perspektif sekaligus.

Pembicaraan yang Berkembang

“Teknologi AI berkembang sangat cepat, tetapi manusia masih memiliki kendali untuk menentukan ke mana arah perkembangan itu akan dibawa,” katanya kepada Vatican News.

Buolamwini menyoroti meningkatnya penggunaan AI dalam sistem pengenalan wajah, manipulasi gambar, serta pengambilan keputusan otomatis yang dapat merugikan individu tertentu. Ia memperingatkan munculnya apa yang ia sebut sebagai individu “X-coded”, yakni orang-orang yang menjadi korban diskriminasi atau eksploitasi akibat sistem AI.

Menurutnya, tidak ada seorang pun yang benar-benar aman dari risiko tersebut. Ia mencontohkan maraknya gambar manipulatif dan deepfake eksplisit yang menyasar perempuan dan anak perempuan.

Pikiran bukan Robot
Pikiran bukan Robot   (2026 Getty Images)

Karena itu, Buolamwini mendorong perlindungan lebih kuat terhadap hak biometrik, hak kreatif, dan identitas pribadi agar suara, wajah, maupun karya seni seseorang tidak dapat direplikasi sembarangan tanpa persetujuan.

Afrika dan Masa Depan AI

Diskusi konferensi juga menyoroti posisi Afrika dalam perkembangan AI global. Para peserta menilai Afrika tidak boleh hanya menjadi konsumen teknologi yang dikembangkan negara lain, tetapi juga harus terlibat aktif dalam membentuk arah teknologi masa depan.

Profesor ilmu komputer dari University of the Witwatersrand, Johannesburg, Benjamin Rosman, menegaskan bahwa Afrika memiliki tantangan dan kebutuhan yang berbeda dibanding kawasan lain, terutama dalam bidang bahasa, kesehatan, pendidikan, dan pertanian.

Dengan lebih dari 2.000 bahasa yang digunakan di benua Afrika, banyak bahasa masih tergolong “low-resource languages” karena minim data digital untuk melatih sistem AI.

“AI bukan sekadar soal akses terhadap teknologi, tetapi juga tentang siapa yang merancangnya dan nilai-nilai siapa yang tertanam di dalamnya,” ujarnya.

Rosman mencontohkan inisiatif Deep Learning Indaba yang memperkuat kolaborasi peneliti AI di Afrika untuk mengembangkan teknologi yang lebih etis dan relevan secara budaya.

Buolamwini juga mengingatkan bahaya “gelombang kedua kolonialisme data”, yakni ketika data digital masyarakat Afrika dieksploitasi perusahaan asing tanpa memberikan manfaat nyata bagi komunitas lokal.

Ia menyerukan agar pemerintah dan lembaga di Afrika melindungi sumber daya digital mereka serta memastikan suara Afrika ikut menentukan arah perkembangan teknologi global.

Di sisi lain, ia melihat peluang besar AI bagi Afrika. Salah satunya melalui platform seperti FarmerLine yang membantu para petani menggunakan bahasa lokal untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan kesejahteraan mereka.

Gereja dan Etika AI

Perspektif Gereja Katolik turut menjadi bagian penting dalam konferensi tersebut. Pastor Faustine Furaha mengingatkan bahwa wajah dan suara manusia adalah anugerah suci yang harus dijaga.

Mengacu pada dokumen Vatikan Antiqua et Nova, ia menegaskan bahwa AI hanyalah alat bantu dan tidak dapat menggantikan kecerdasan manusia, kebijaksanaan, ataupun pelayanan pastoral.

“AI dapat mendukung evangelisasi dan komunikasi, tetapi tidak bisa menggantikan kehadiran manusia yang nyata,” katanya.

Pandangan serupa disampaikan Mesioye Toheeb, mahasiswa asal Nigeria yang sedang belajar di Roma. Ia mengingatkan generasi muda agar tidak terlalu bergantung pada AI dalam hal kreativitas maupun kemampuan berpikir kritis.

“AI memiliki batas karena ia diprogram manusia, sedangkan potensi manusia jauh lebih besar,” ujarnya.

Menurutnya, generasi muda perlu menggunakan AI secara bijak tanpa kehilangan identitas dan kreativitas mereka sendiri.

Ubuntu dan Perlindungan Suara Afrika

Perspektif lain datang dari Anastasia Makunu yang melihat AI melalui pendekatan hukum dan filsafat Afrika Ubuntu — “Aku ada karena kita ada.”

Ia menilai masyarakat Afrika bertumpu pada relasi langsung, tradisi mendengarkan, dan budaya bertutur yang hidup dalam komunitas. Karena itu, kehadiran suara buatan, bot, dan realitas virtual dikhawatirkan dapat melemahkan hubungan manusia yang autentik.

Makunu juga mengkritik dominasi teknologi Barat yang sering kali tidak mencerminkan realitas, budaya, dan nilai-nilai Afrika. Ia menyoroti persoalan bias algoritma, pengawasan digital, eksploitasi tenaga kerja Afrika dalam moderasi data, hingga dampak lingkungan akibat pembangunan pusat data di wilayah rentan.

Dari sisi hukum, ia memperingatkan bahwa sistem pengenalan wajah yang bias dapat memperkuat ketidakadilan sistemik, terutama terhadap komunitas kulit hitam dan perempuan.

Karena itu, ia mendorong lahirnya tata kelola AI yang berakar pada nilai-nilai Afrika dan mampu melindungi martabat manusia, hak asasi, serta identitas budaya.

Meski demikian, Makunu tetap melihat sisi positif AI. Menurutnya, teknologi ini dapat membantu menyederhanakan dokumen hukum yang rumit, memperluas akses pendidikan, menjembatani hambatan bahasa, dan membuka peluang baru bagi generasi muda Afrika.

Konferensi itu akhirnya sampai pada satu kesimpulan bersama: AI harus tetap berada dalam pelayanan bagi manusia. Di tengah kemajuan teknologi yang semakin pesat, menjaga wajah, suara, budaya, dan relasi manusia yang autentik menjadi hal yang tidak boleh hilang.

26 May 2026, 14:41