Menapaki Jejak Santa Rita: Misionaris Brasil yang Menemukan Panggilan di Italia
Oleh Andressa Collet
ROCCAPORENA – Di sebuah kota kecil berbatu di wilayah Umbria, Italia tengah, doa-doa terus mengalir setiap hari. Para peziarah datang dari berbagai penjuru dunia membawa harapan, luka, dan pergumulan hidup yang tampaknya mustahil diselesaikan. Mereka menuju Roccaporena, tempat kelahiran Santa Rita dari Cascia, santo pelindung perkara-perkara mustahil.
Di tengah arus peziarah itu, seorang biarawati asal Brasil, Suster Maria Atília Collet, hadir menyambut mereka dengan senyum hangat dan kisah-kisah tentang Santa Rita yang seolah hidup kembali di jalan-jalan kecil kota tersebut.
Bagi Suster Maria Atília, Roccaporena bukan sekadar tempat pelayanan. Kota kecil itu telah menjadi ruang spiritual tempat ia menemukan kembali makna panggilan hidupnya setelah puluhan tahun bermisi di berbagai belahan dunia. “Saya tidak pernah memilih tempat perutusan saya sendiri,” katanya. “Tetapi hari ini saya merasa sungguh bahagia berada di sini.”
Suster Maria Atília merupakan anggota Keluarga Internasional Consolata. Sebelum menetap di Roccaporena sekitar setahun lalu, ia menjalani perjalanan panjang sebagai misionaris di Brasil, Italia, Portugal, Spanyol, hingga Mozambik. Lebih dari 15 tahun ia habiskan di negara Afrika tersebut, terutama di Pemba dan Maputo, pengalaman yang menurutnya membentuk cara pandangnya dalam melayani orang lain. Kini, di usia 81 tahun, ia mendedikasikan hari-harinya untuk mendampingi para peziarah yang datang mencari penghiburan melalui perantaraan Santa Rita.
Kisah hidup Santa Rita sendiri masih terasa sangat dekat di Roccaporena. Kota kecil yang terletak sekitar enam kilometer dari Cascia itu menjadi saksi masa kecil hingga kehidupan keluarga Santa Rita sebelum ia masuk biara.
Di Gereja San Montano, tempat Santa Rita menerima Komuni Pertama, Penguatan, dan Sakramen Perkawinan, Suster Maria Atília memulai aktivitasnya setiap pagi sejak pukul 05.30. “Di sinilah saya berdoa setiap hari,” katanya. Menurutnya, tempat itu bukan hanya bangunan tua bersejarah, tetapi ruang hidup yang menyimpan jejak iman, pengampunan, dan penderitaan Santa Rita. “Di sinilah Santa Rita belajar berdoa, belajar mengampuni, dan memohon pertobatan bagi suaminya,” ujarnya.
Perjalanan Spiritual dan Geografis ke Roccaporena
Santa Rita dikenal menjalani kehidupan yang penuh penderitaan. Ia hidup bersama suami yang keras dan terlibat dalam konflik berdarah antarkelompok di wilayah tersebut. Namun di tengah situasi itu, Rita tetap memilih jalan doa dan pengampunan.
Kisah itu masih terus dikenang para peziarah yang datang ke rumah kelahiran Santa Rita. Di sana, pengunjung dapat melihat ruang kecil tempat sang santa dilahirkan, serta berbagai peninggalan yang menggambarkan kesederhanaan hidupnya.
Salah satu yang paling menyentuh perhatian peziarah adalah kisah Rita yang kerap mendaki gunung menuju Batu Doa—sebuah tempat sunyi di ketinggian sekitar 827 meter—untuk berdoa bagi pertobatan suaminya dan perdamaian kotanya.
Untuk mencapai lokasi itu, para peziarah harus menaiki 314 anak tangga.
“Di atas sana, ia merasa lebih dekat dengan Tuhan,” kata Suster Maria Atília.
Menurutnya, kisah Santa Rita tetap relevan hingga sekarang karena berbicara tentang keluarga, penderitaan, kesetiaan, dan harapan di tengah situasi yang sulit.
Rangkayan Doa dan Pengampunan
Rumah tempat Santa Rita pernah tinggal bersama keluarganya kini telah diubah menjadi rumah doa. Banyak pasangan muda datang ke sana menjelang pernikahan mereka untuk berdoa bersama.
“Bagi saya itu sangat kuat,” ujarnya. “Saya membayangkan Rita membesarkan anak-anaknya dengan kasih seorang ibu, sambil terus berdoa agar hati suaminya disentuh Tuhan.”
Selain rumah Santa Rita dan Batu Doa, Roccaporena juga memiliki sejumlah tempat spiritual lain seperti Lazzaretto yang mengenang karya amal Rita bagi orang sakit, serta Kebun Mukjizat yang terkenal dengan kisah mawar dan buah ara yang muncul di tengah musim dingin.
Namun bagi banyak peziarah, daya tarik terbesar kota kecil itu bukan hanya tempat-tempat sucinya, melainkan pengalaman batin yang mereka rasakan.
“Santa Rita mengajarkan bahwa doa dan pengampunan dapat mengubah hidup,” kata Suster Maria Atília.
Pengalaman panjangnya sebagai misionaris di berbagai negara membuatnya memahami bahwa banyak orang datang membawa luka yang dalam. Karena itu, ia tidak hanya menemani mereka berziarah, tetapi juga mendengarkan cerita hidup mereka.
“Orang-orang mengatakan bahwa saya memancarkan kebahagiaan,” katanya sambil tersenyum. “Dan saya rasa itu adalah rahmat Tuhan.”
Menurutnya, setiap peziarah yang datang ke Roccaporena selalu pulang dengan sesuatu yang berbeda dalam hati mereka—ketenangan, harapan baru, atau cara pandang yang lebih damai terhadap hidup.
“Ini adalah berkat, bukan hanya bagi saya, tetapi juga bagi semua orang yang datang ke sini,” ujarnya.