Uskup Almería: Marilah Menjadi Tangan Allah bagi Mereka yang Menderita
Oleh Sebastián Sansón Ferrari
Gereja di Almería bergerak sejak jam-jam pertama setelah kebakaran hutan yang pecah pada 9 Juli dan melanda kota-kota Bédar serta Los Gallardos, untuk mendampingi mereka yang terdampak dan membantu memenuhi kebutuhan paling mendesak.
Sedikitnya 13 orang dipastikan meninggal dunia dan 8 lainnya terluka. Sebanyak 23 orang masih dinyatakan hilang setelah kebakaran yang terjadi pada Kamis di Los Gallardos, Andalusia, dan sejak itu telah meluas hingga mencakup sekitar 6.600 hektare. Hampir 1.500 warga terpaksa mengungsi.
Dalam wawancara dengan Vatican News, Uskup Almería, Antonio Gómez Cantero, mengenang bahwa api menyebar dengan kecepatan luar biasa, didorong oleh suhu tinggi dan angin kencang, menjalar melalui jurang-jurang dan daerah yang sulit dijangkau, tempat banyak rumah berdiri terisolasi.
“Setiap menit, angin mendorong api sekitar seratus meter lebih jauh melintasi semak belukar,” katanya.
Pihak berwenang menyesuaikan langkah-langkah evakuasi sesuai kondisi setempat, sementara paroki-paroki dan Caritas dengan cepat mengorganisasi bantuan bagi para pengungsi. Banyak warga berlindung di fasilitas penampungan sementara, sementara yang lain diterima di rumah-rumah pribadi. Uskup memuji solidaritas para relawan yang menyediakan makanan dan air bagi petugas pemadam kebakaran serta mendukung mereka yang terpaksa meninggalkan rumah.
“Semua orang bersatu dalam solidaritas menghadapi tragedi besar ini,” ujarnya.
Uskup juga mengenang bagaimana seorang perempuan setempat membunyikan lonceng gereja paroki untuk memperingatkan warga agar segera mengungsi—sebuah cara tradisional untuk memberi peringatan kepada masyarakat pada saat keadaan darurat.
Tanggapan pastoral keuskupan
Merefleksikan tanggapan pastoral keuskupan, Uskup Gómez Cantero mengatakan bahwa para imam tetap berada di tengah masyarakat sejak awal kejadian, khususnya mendampingi para lansia dan keluarga yang mengungsi. Ia juga mengumumkan bahwa dirinya akan mengunjungi komunitas-komunitas yang terdampak dalam perayaan pesta Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel.
Berbicara mengenai dampak kemanusiaan dari bencana tersebut, ia menyinggung mereka yang kehilangan nyawa, proses identifikasi para korban, serta penyelamatan dua pendaki yang ditemukan hidup setelah terjebak selama dua hari di sebuah jurang.
Ketika ditanya di mana Allah hadir di tengah penderitaan seperti itu, Uskup mengingat kata-kata salah seorang imamnya: “Allah ada bersamamu, menanggung penderitaan ini di Salib.”
Ia mengajak umat Kristiani untuk tidak berfokus mencari siapa yang harus disalahkan, melainkan merawat mereka yang terkena dampak.
“Sekarang bukan saatnya mencari kambing hitam; sekarang adalah saatnya bagi kita semua untuk bertanggung jawab terhadap mereka yang menderita,” katanya, seraya mengajak umat beriman menjadi “Gereja Samaria.”
Mengingat kembali perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati, ia mengatakan bahwa umat Kristiani dipanggil “untuk melihat, menyambut, menyembuhkan, memulihkan, dan melindungi” mereka yang membutuhkan.
Solidaritas sebagai tanda harapan
Uskup menggambarkan solidaritas yang ditunjukkan para tetangga, paroki, dan relawan sebagai tanda harapan.
“Memulai kembali berarti memandang masa depan, dan memulai kembali berarti memiliki harapan,” katanya. Ia menambahkan bahwa umat Kristiani dipanggil untuk menjadi sarana belas kasih Allah:
“Sering kali, kita adalah tangan Allah, kaki Allah, mata Allah, suara Allah, dan telinga Allah, karena iman kita memanggil kita untuk menghadirkan Allah kepada sesama melalui kehidupan kita sendiri.”
Pada akhirnya, Uskup Gómez Cantero mengatakan bahwa tragedi ini juga harus menginspirasi kepedulian yang lebih besar terhadap ciptaan. Menggemakan ajaran ensiklik Paus Fransiskus Laudato si', ia menegaskan pentingnya merawat hutan dan hidup selaras dengan alam.
“Jika kita merawat alam, alam akan merawat kita,” katanya.