Cari

Pertemuan Makro-Regional Selatan – Menjalin Suara demi Martabat Pertemuan Makro-Regional Selatan – Menjalin Suara demi Martabat  

Gereja dan Organisasi di Peru Membela Martabat dan Hak Asasi Manusia

Gereja, perwakilan organisasi sosial, masyarakat adat dan komunitas, kelompok akar rumput, serta para pembela hak asasi manusia dari sembilan wilayah di Peru bagian selatan berkumpul di Cusco untuk berbagi pengalaman, mendengarkan berbagai realitas di wilayah masing-masing, dan menyusun usulan bersama demi martabat, keadilan, perdamaian, dan kebaikan bersama, dalam rangka Pertemuan Makro-Regional Selatan bertajuk “Menjalin Suara demi Martabat”.

Vatican News

Perwakilan organisasi sosial, masyarakat dan komunitas adat, kelompok akar rumput, para pemimpin, serta pembela hak asasi manusia dari Ayacucho, Puno, Ica, Arequipa, Madre de Dios, Apurímac, Tacna, Moquegua, dan Cusco berkumpul di Cusco dalam Pertemuan Makro-Regional Selatan, “Menjalin Suara demi Martabat: Untuk Hak Asasi Manusia dan Kebaikan Bersama.”

Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk berbagi pengalaman dari berbagai wilayah, mengidentifikasi tantangan bersama, serta menyusun usulan untuk menanggapi berbagai persoalan utama hak asasi manusia yang dihadapi negara tersebut.

Hari pertama mempertemukan berbagai realitas dari Peru bagian selatan dan berupaya memperkuat kerja sama di antara organisasi, komunitas, dan lembaga yang berkomitmen membela martabat manusia, keadilan, perdamaian, dan kebaikan bersama.

Dalam sesi pembukaan, Uskup Lizardo Estrada Herrera, Uskup Auksilier Keuskupan Agung Metropolitan Cusco sekaligus Sekretaris Jenderal CELAM (Dewan Episkopal Amerika Latin dan Karibia), menegaskan bahwa membela hak asasi manusia merupakan tanggung jawab yang menyangkut masyarakat sekaligus Gereja.

“Membela martabat manusia, keadilan, perdamaian, dan kebaikan bersama bukanlah hal yang tidak berkaitan dengan iman,” katanya. Ia menekankan bahwa prinsip-prinsip tersebut merupakan bagian dari Ajaran Sosial Gereja dan komitmen Gereja untuk berjalan bersama masyarakat.

Pertemuan tersebut membahas realitas yang melampaui batas-batas masing-masing wilayah. Ketimpangan, kekerasan, diskriminasi, konflik terkait tanah dan air, kerusakan lingkungan, serta tuntutan pengakuan hak menjadi sejumlah persoalan yang disuarakan dari berbagai wilayah negara tersebut.

Dalam konteks itu, tema “Menjalin Suara demi Martabat” menyoroti kebutuhan untuk memperkuat sikap mendengarkan dan kerja sama sosial.

Menurut Uskup Estrada, tidak ada suara yang seharusnya berdiri sendiri, dan persoalan nasional tidak dapat dipahami secara utuh tanpa mendengarkan masyarakat serta komunitas yang mengalami persoalan tersebut secara langsung.

“Itulah sebabnya pertemuan-pertemuan seperti ini juga dapat membantu kita membangun kembali relasi, menyembuhkan ingatan, dan bergerak maju melalui jalan rekonsiliasi. Rekonsiliasi bukan berarti melupakan apa yang telah kita alami, melainkan mendengarkan satu sama lain dalam kebenaran, mengakui martabat orang lain, dan kembali bersatu menghadapi tanda-tanda konkret kehidupan dan penderitaan masyarakat kita.”

Pada saat yang sama, Peru bagian selatan digambarkan sebagai wilayah yang kaya akan ingatan, organisasi, ketangguhan, kebijaksanaan, dan harapan. Di sana, komunitas dan berbagai organisasi terus mengembangkan usulan dan mencari alternatif sebagai tanggapan terhadap situasi yang memengaruhi hak-hak dan kondisi kehidupan mereka.

Martabat sebagai Komitmen Nasional

Salah satu pesan utama pertemuan tersebut adalah bahwa membela hak asasi manusia tidak dapat berhenti pada pernyataan, tetapi harus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata.

““Bagi Gereja, hadir di sini bukan berarti mengambil alih peran organisasi-organisasi sosial atau mengklaim memiliki semua jawaban. Artinya adalah mendengarkan, mendampingi, membangun jembatan, dan membiarkan diri kita ditantang oleh kenyataan.””

Sejalan dengan hal tersebut, pertemuan itu berupaya bergerak dari diagnosis masalah menuju penyusunan usulan dan komitmen bersama.

Tujuannya agar pengalaman dari berbagai wilayah dapat memberikan kontribusi bagi agenda bersama mengenai hak asasi manusia dan kebaikan bersama.

Kehadiran perwakilan dari sembilan wilayah juga menunjukkan cakupan makro-regional dari proses tersebut serta kebutuhan untuk memperkuat jalur dialog di antara berbagai wilayah di negara itu.

Gereja, Masyarakat Sipil, dan Membangun Jembatan

Pertemuan tersebut dihadiri Tania Pariona, Sekretaris Eksekutif Koordinator Nasional untuk Hak Asasi Manusia; José Antonio Lapa, Direktur Derechos Humanos Sin Fronteras di Cusco; Victoria Taco Choquipuma, perwakilan Espinar Platform for People Affected by Toxic Metals (PAMETEC); dan Ruth Luque, perwakilan Cusco.

Uskup Miguel Ángel Cadenas, Uskup Iquitos, juga berpartisipasi dengan memberikan perspektif pastoral dan mengacu pada ajaran Gereja dalam merefleksikan berbagai tantangan dalam membela martabat manusia.

Dalam konteks tersebut, Uskup Estrada menegaskan bahwa kehadiran Gereja bukan untuk menggantikan organisasi-organisasi sosial atau menawarkan semua jawaban, melainkan untuk mendengarkan, mendampingi, membangun jembatan, dan membiarkan diri ditantang oleh kenyataan.

Pesan tersebut memiliki makna khusus di sebuah negara yang ditandai oleh perpecahan teritorial dan sosial yang mendalam, ketika membangun konsensus membutuhkan ruang dialog yang mampu mengakomodasi berbagai pengalaman dan perspektif.

Menuju Agenda Bersama demi Kebaikan Bersama

Pertemuan tersebut juga menyoroti perlunya mengubah berbagai keprihatinan dan tuntutan yang disampaikan organisasi menjadi usulan dan komitmen konkret.

Seperti dikatakan Uskup Estrada, tujuannya adalah bergerak

““dari suara-suara yang tersebar menuju satu kata bersama; dari luka menuju jalan rekonsiliasi; dari keprihatinan menuju usulan, dan dari usulan menuju komitmen konkret bagi kehidupan, keadilan, perdamaian, dan kebaikan bersama.””

Dari perspektif ini, Pertemuan Makro-Regional Selatan berupaya memberikan kontribusi bagi percakapan yang lebih luas mengenai masa depan Peru, dengan menempatkan martabat manusia, hak-hak komunitas, serta kebutuhan memperkuat masyarakat yang berlandaskan keadilan, partisipasi, dan perdamaian sebagai pusat perhatian.

Inisiatif ini juga menjadi bagian dari persiapan menyambut kunjungan Paus Leo XIV ke Peru. Pertemuan tersebut menyediakan ruang dialog antara Gereja, organisasi sosial, para pembela hak asasi manusia, dan perwakilan dari berbagai wilayah untuk mendengarkan suara mereka serta memperkuat komitmen demi martabat manusia dan kebaikan bersama. 

14 Aug 2026, 13:31