Cari

Foto arsip. Umat Buddha mengunjungi Pagoda Shwedagon selama Festival Bulan Purnama Warso di Yangon pada 2022. Foto arsip. Umat Buddha mengunjungi Pagoda Shwedagon selama Festival Bulan Purnama Warso di Yangon pada 2022.   (AFP or licensors)

Imam Jesuit Myanmar: Tradisi Waso Dapat Menjadi Jembatan bagi Perdamaian Antaragama

Seorang imam Jesuit di Myanmar melihat masa Waso dalam tradisi Buddhis sebagai kesempatan untuk memperdalam persahabatan antaragama, karena nilai-nilai doa, belas kasih, kesederhanaan, dan rekonsiliasi memiliki titik temu dengan spiritualitas Kristiani.

Oleh Vatican News

“Selama sepuluh tahun terakhir di Myanmar, saya sangat tersentuh menyaksikan praktik iman yang begitu hidup di antara para biksu, biarawati, dan umat awam Buddhis,” kata Romo Girish  Santiago SJ.

“Waso memang bukan masa liturgi Kristiani, tetapi nilai-nilai spiritual yang menjadi intinya dapat menjadi jembatan yang bermakna bagi perjumpaan antaragama dan saling memahami.”

Enam Pilar Kesamaan Iman dan Tradisi

Romo  Santiago mengidentifikasi enam bidang yang menunjukkan titik temu antara perayaan Waso dalam tradisi Buddhis dan spiritualitas Katolik.

Pertama, ia menunjuk pada kontemplasi dan doa. Komitmen umat Buddha untuk menjalani masa retret dan meditasi, katanya, memiliki kemiripan dengan undangan Yesus kepada para murid-Nya dalam Markus 6:31: “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika.”

Dengarkan laporan kami (Bahasa Inggris)

Imam Jesuit tersebut juga melihat adanya kemiripan antara disiplin spiritual Waso dan masa Prapaskah dalam tradisi Katolik. Keduanya menekankan doa, pertobatan, penyangkalan diri, dan amal kasih.

Ajaran Buddhis mengenai mettā, atau cinta kasih, dan karuṇā, atau belas kasih, juga memiliki resonansi dengan perintah Kristiani untuk mengasihi Allah dan sesama, katanya.

Waso, tambahnya, mengajak kedua komunitas untuk bertanya: “Siapa yang sedang menderita di sekitar kita, dan bagaimana iman kita dapat menggerakkan kita untuk melayani mereka?”

Romo Santiago juga menyoroti non-kekerasan dan rekonsiliasi. Kedua tradisi, katanya, menjunjung tinggi martabat manusia, menolak kebencian, serta mendorong pengampunan, perdamaian, dan perlindungan terhadap mereka yang rentan.

Kedua tradisi tersebut juga memiliki perhatian pada kesederhanaan dan pelepasan diri, yang menantang budaya konsumerisme dan sikap mementingkan diri sendiri. Keduanya mendorong umat beriman untuk melihat kembali apa yang menghalangi mereka menjadi pribadi yang semakin penuh belas kasih.

Persahabatan antaragama juga menjadi salah satu bidang perjumpaan. Menurut Romo Santiago, Waso membuka kesempatan untuk dialog yang penuh hormat, refleksi teologis, dan aksi kemanusiaan bersama.

Visi Rekonsiliasi dan Harapan

Romo Santiago juga merujuk pada ensiklik Paus Leo XIV, Magnifica humanitas (Magnificent Humanity), dengan menekankan bahwa dialog antaragama yang autentik menghormati perbedaan teologis, sekaligus menemukan nilai-nilai kemanusiaan bersama yang dapat mendorong kebaikan bersama.

Ensiklik Paus Leo terbit pada 25 Mei 2026
Ensiklik Paus Leo terbit pada 25 Mei 2026   (@Vatican Media)

Ketika hujan monsun membasahi lahan-lahan pertanian Myanmar, superior regional Jesuit tersebut mengungkapkan harapan bahwa praktik-praktik spiritual yang berkaitan dengan masa tersebut dapat berkontribusi pada penyembuhan sebuah negeri yang sedang menghadapi penderitaan mendalam.

“Sebagaimana hujan menyuburkan lahan pertanian, orang-orang beriman harus terus berdoa dan bekerja untuk perdamaian,” kata Fr. Santiago.

“Semoga upaya bersama untuk menjalani doa yang hening, kemurahan hati, dan belas kasih menghasilkan buah berlimpah bagi rekonsiliasi di seluruh Myanmar.”

 

Artikel ini pertama kali diterbitkan di LICAS News. Seluruh hak dilindungi. Publikasi ulang oleh pihak ketiga tanpa izin tidak diperkenankan.

13 Aug 2026, 12:16