Santo Maksimilian Kolbe adalah ‘kesaksian bagi kehidupan di tengah kematian’
Oleh Krisanne Vaillancourt Murphy, Direktur Eksekutif Catholic Mobilizing Network*
Bulan ini Gereja merayakan Pesta Santo Maksimilian Kolbe, OFM Conv. (14 Agustus), seorang imam asal Polandia yang dikenal karena pengabdiannya kepada Hati Tak Bernoda Maria. Ia dipenjarakan dan dieksekusi di sebuah kamp konsentrasi Nazi Jerman pada tahun 1941.
Secara khusus pada tahun ini, saya percaya perantaraan Santo Kolbe sangat dibutuhkan di Amerika Serikat, di mana eksekusi terus menunjukkan tren peningkatan setelah mencapai angka tertinggi, yakni 47 eksekusi, pada tahun 2025.
Sebanyak 23 orang telah dieksekusi sepanjang tahun 2026, termasuk tiga pria yang dieksekusi sehari sebelum pesta Santo Kolbe.
Melalui kesaksian dari kamp kematian Nazi di Auschwitz, kita dapat melihat bagaimana santo pelindung para narapidana dan gerakan pro-kehidupan ini sungguh percaya pada kekuatan kehidupan atas kematian.
Pada saat sejumlah negara bagian di Amerika Serikat terus mengeksekusi orang atas nama keadilan, membalas kematian dengan kematian dalam lingkaran penderitaan yang tak berkesudahan, Santo Kolbe mengilhami kita untuk terus mencari visi keadilan yang justru berakar pada kehidupan.
Kolbe dipenjarakan karena secara terbuka menentang rezim Nazi, penentangan yang ia suarakan melalui majalah dan stasiun radio miliknya yang populer.
Pada bulan Juli, sejumlah pria dari barak tempat Kolbe ditahan melarikan diri. Sebagai hukuman, komandan memilih 10 orang untuk dikirim ke sebuah sel kelaparan hingga mati. Ketika seorang pria muda bernama Franciszek Gajowniczek dipilih, ia mulai menangis dan berseru memanggil istri serta anak-anaknya. Kolbe kemudian maju dan meminta untuk menggantikan tempatnya.
Pengorbanan Kolbe di hadapan kematian menunjukkan komitmennya yang teguh terhadap kehidupan; terhadap masa depan ayah muda itu dan masa depan anak-anaknya.
Komitmen itu tidak berhenti di sana. Ketika Kolbe dan sembilan tahanan lainnya perlahan mati kelaparan di sebuah ruang gelap, ia memberi mereka alasan untuk terus hidup.
Kesaksian dari Auschwitz menyebutkan bahwa Kolbe memimpin mereka dalam doa dan nyanyian, bahkan mendengarkan pengakuan dosa mereka. Harapan akan kehidupan ini juga menjangkau orang-orang lain di seluruh kamp kematian tersebut.
Hukuman yang kejam dijatuhkan untuk menjadi contoh dan menunjukkan kekuasaan Nazi atas kehidupan orang-orang yang mereka tahan. Namun, alih-alih jeritan dan tangisan kesakitan yang mengingatkan mereka akan ajal yang tak terelakkan, para tahanan di seluruh kamp justru mendengar suara-suara penuh harapan yang datang dari ruang itu.
Setelah lebih dari dua minggu tanpa makanan, hanya Kolbe dan tiga pria lainnya yang masih hidup. Mereka akhirnya dibunuh melalui suntikan mematikan asam karbol. Hingga akhir hidupnya, Kolbe tetap mempertahankan martabatnya dengan mengangkat lengannya agar perawat dapat menyuntikkan jarum yang mematikan itu.
Franciszek Gajowniczek bukan hanya selamat dari ancaman maut di ruang kelaparan tersebut, tetapi juga berhasil bertahan hidup dari Auschwitz dan perang secara keseluruhan. Empat puluh satu tahun kemudian, ia hadir ketika Paus asal Polandia, Santo Yohanes Paulus II, mengkanonisasi Santo Maksimilian Kolbe di Lapangan Santo Petrus.
Setiap kali Amerika Serikat mengeksekusi seseorang—seperti 23 orang yang telah kehilangan nyawa mereka tahun ini—saya teringat akan tekad Santo Kolbe untuk mempertahankan kehidupan di sebuah tempat yang dipenuhi begitu banyak kematian.
Saya berdoa agar ia menjadi perantara bagi kita ketika kita berjuang untuk melakukan hal yang sama pada zaman kita, melalui penolakan terhadap hukuman mati di Amerika Serikat.
* Krisanne Vaillancourt Murphy adalah Direktur Eksekutif Catholic Mobilizing Network, sebuah organisasi nasional di Amerika Serikat yang menggerakkan umat Katolik dan semua orang yang berkehendak baik untuk mengakhiri hukuman mati, memperjuangkan solusi keadilan yang selaras dengan nilai-nilai Katolik, serta memajukan pemulihan melalui pendekatan dan praktik keadilan restoratif. Untuk informasi lebih lanjut dan bergabung dalam gerakan ini, kunjungi catholicsmobilizing.org.