Cari

Para suster dari Kongregasi Missionaries of Mary Queen of Heaven (MQHM) mendampingi perempuan dewasa dan anak-anak yang menjadi korban perdagangan seks, prostitusi, dan kekerasan di Filipina. Para suster dari Kongregasi Missionaries of Mary Queen of Heaven (MQHM) mendampingi perempuan dewasa dan anak-anak yang menjadi korban perdagangan seks, prostitusi, dan kekerasan di Filipina.  

Para Suster yang Berjuang Pulihkan Martabat Perempuan Korban Eksploitasi

Selama tiga dekade, para suster Kongregasi Missionaries of Mary Queen of Heaven (MQHM) di Filipina mendampingi perempuan dewasa dan anak-anak yang menjadi korban perdagangan seks, prostitusi, dan kekerasan. Didirikan pada 1996 di Keuskupan Agung Cebu, Filipina, para suster tesebut telah menyelamatkan dan merehabilitasi ratusan wanita dewasa dan anak-anak gadis yang berjuang melepaskan diri dari perdagangan, prostitusi dan kekerasan seksual.

Oleh Sr. Christine Masivo, CPS

Selama 30 tahun, Missionaries of Mary Queen of Heaven telah membantu perempuan yang mengalami eksploitasi seksual atau menjadi korban perdagangan manusia. Para suster menyediakan tempat tinggal, konseling, pendidikan, dan pelatihan keterampilan kerja agar para korban dapat membangun kembali kehidupan mereka dan memulihkan martabat yang telah dirampas.

Misi belas kasih dan kepedulian

Sr. Corazon J. Salazar, pendiri sekaligus Pemimpin Umum Missionaries of Mary Queen of Heaven, mendirikan komunitas tersebut bersama enam suster lainnya pada 1996. Mereka terdorong oleh meningkatnya eksploitasi seksual dan perdagangan manusia terhadap anak perempuan dan perempuan muda rentan yang hidup dalam kemiskinan di Filipina.

Melalui pelayanan mereka, para suster berfokus membangun kembali harapan dan masa depan para penyintas kekerasan dan eksploitasi.

Misi mereka adalah menyelamatkan anak perempuan dan perempuan muda, bahkan yang masih berusia delapan tahun, dari prostitusi dan perdagangan manusia. Mereka menyediakan rumah yang aman, perawatan, serta perhatian penuh kasih.

Komunitas ini juga memberikan bantuan pendidikan kepada para korban serta anak-anak dari komunitas pedesaan yang hidup dalam kemiskinan. Tujuannya adalah memutus mata rantai kemiskinan yang dapat membuat mereka semakin rentan terhadap eksploitasi.

Para suster menyediakan lingkungan yang aman, perawatan, dan dukungan agar para perempuan dan anak perempuan tersebut dapat kembali memperoleh kepercayaan diri serta menjadi pribadi yang mandiri.

Pemulihan dan awal kehidupan baru

Komunitas tersebut mengelola House of Love di Tuburan, dekat Cebu. Rumah ini menyediakan layanan rehabilitasi dan pendampingan bagi para korban prostitusi dan perdagangan seks.

Badan berita Fides milik Vatikan melaporkan bahwa dalam kunjungannya baru-baru ini, Uskup Agung Cebu Alberto S. Uy mengaku sangat tersentuh setelah menyaksikan secara langsung pelayanan Missionaries of Mary Queen of Heaven.

Ia menyebut pelayanan tersebut sebagai "sebuah karya yang memberikan kehidupan".

Uskup Agung Uy menyatakan dukungannya terhadap pelayanan para suster sekaligus menyerukan bantuan yang lebih besar agar kongregasi dapat menyelesaikan fasilitas yang tersedia dan memperluas pendampingan bagi anak-anak serta perempuan muda yang rentan.

Pusat lainnya yang dikelola para suster adalah My Bonita Girls' Home di Purok, Municipality of San Jose. Rumah ini mendampingi anak-anak di bawah umur yang mengalami kekerasan.

Kedua pusat tersebut menyediakan rehabilitasi dan konseling, pendidikan, serta pelatihan keterampilan kerja untuk membantu para penyintas kembali hidup dan berintegrasi di tengah masyarakat.

Menurut Sr. Corazon, banyak perempuan yang telah mengikuti program tersebut kini berhasil kembali ke tengah masyarakat. Mereka menjadi bukti pentingnya pendampingan jangka panjang dalam proses pemulihan.

Pendidikan sebagai benteng melawan perdagangan manusia

Dalam upaya membendung perdagangan manusia dan prostitusi, misi para suster juga diarahkan pada akar persoalan sosial tersebut, yakni kemiskinan.

Melalui Regina Coeli Education Assistance Program, mereka mendukung anak-anak dan keluarga yang tinggal di komunitas pedesaan miskin melalui pendidikan dan pelatihan.

Program ini bertujuan melindungi kaum muda dari para perekrut ilegal yang beroperasi di komunitas mereka. Para perekrut tersebut menawarkan pekerjaan fiktif untuk menipu orang tua dan membujuk mereka mengirim anak-anak mereka pergi.

Dalam beberapa tahun terakhir, persoalan tersebut mengalami perubahan. Eksploitasi yang sebelumnya banyak berlangsung di lokasi-lokasi fisik kini semakin bergeser ke platform digital.

Rumah bagi semua

Cebu sejak lama menjadi daerah asal, transit, sekaligus tujuan bagi para korban perdagangan manusia. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh kemiskinan di daerah pedesaan dan kuatnya aktivitas pariwisata.

Perkiraan internasional menunjukkan bahwa antara 60.000 hingga 100.000 anak di Filipina dipaksa masuk ke dalam prostitusi atau perdagangan seks setiap tahun.

Menurut Departemen Kehakiman Filipina, eksploitasi seksual merupakan bentuk perdagangan manusia yang paling banyak terjadi. Dari para korban yang teridentifikasi di seluruh negeri, perempuan dan anak perempuan merupakan mayoritas terbesar.

Pada tingkat nasional, lebih dari 70 persen vonis dalam kasus perdagangan manusia secara khusus berkaitan dengan eksploitasi seksual komersial.

Bagi Missionaries of Mary Queen of Heaven, tanggapan terhadap persoalan tersebut tidak berhenti pada penyelamatan para korban.

Melalui tempat tinggal yang aman, pemulihan, pendidikan, dan kesempatan kerja, para suster berusaha memberikan bekal kepada para penyintas agar mereka dapat membangun kembali kehidupan mereka.

Pada saat yang sama, mereka berupaya membantu komunitas-komunitas rentan mencegah terjadinya eksploitasi sebelum hal itu terjadi. 

11 Aug 2026, 12:13