Suster-suster Katolik Mengambil Peran dalam Menceritakan Kisah Mereka Sendiri
Oleh: Sr. Francine-Marie Cooper
Di sela-sela Kongres Dunia SIGNIS yang bertajuk “Komunikasi Digital untuk Kerukunan Budaya dan Kesejahteraan Lingkungan”, yang berlangsung di Kigali, Rwanda, pada pekan pertama Agustus, Vatican News berbincang dengan Sr. Jane Wakahiu, PhD, Wakil Presiden Bidang Operasional Program sekaligus Kepala Program Suster-Suster Katolik untuk Conrad N. Hilton Foundation.
Ia menyoroti pentingnya memperkuat kemampuan komunikasi para suster Katolik melalui berbagai proyek yang terarah, pendidikan, dan pelatihan. Upaya tersebut memungkinkan para suster memperluas dampak pelayanan mereka bagi komunitas-komunitas yang terpinggirkan di berbagai penjuru dunia.
Sr. Jane Wakahiu menekankan pentingnya para suster Katolik menceritakan kisah mereka sendiri, terutama di tengah era komunikasi digital. Selama beberapa generasi, pengalaman para suster sering kali diceritakan oleh orang lain. Namun, menurutnya, para suster sendiri berada pada posisi terbaik untuk menggambarkan secara autentik karya mereka di tengah masyarakat pedesaan, kawasan perkotaan, serta orang-orang yang hidup di pinggiran masyarakat.
Proyek Pentakosta
Ia menyoroti Proyek Pentakosta yang mendapat dukungan melalui kemitraan dengan Dikasteri untuk Komunikasi Vatikan, sebagai salah satu contoh bagaimana penceritaan digital dapat memperkuat suara para suster dan komunitas yang mereka layani.
Melalui kisah-kisah mingguan yang diterbitkan Vatican News dalam 10 bahasa, proyek ini bertujuan memberikan ruang bagi pengalaman para suster dari tempat-tempat, komunitas-komunitas, dan wilayah-wilayah konflik yang sering kali luput dari perhatian. Kisah-kisah tersebut membagikan cerita tentang harapan, sukacita, dan ketangguhan.
Para Suster Menghidupi Misi Gereja
Sr. Jane menyebut kisah-kisah tersebut sebagai sebuah bentuk evangelisasi. Kisah itu memperlihatkan para suster bukan hanya berada di kapel, tetapi juga hadir bersama masyarakat dalam kehidupan sehari-hari—menawarkan belas kasih, kasih, iman, dan harapan, sembari menghidupi misi Gereja serta karisma komunitas mereka.
Ia menegaskan bahwa para suster tidak seharusnya hanya digambarkan oleh pengamat dari luar sebagai sosok-sosok yang heroik. Sebaliknya, mereka perlu dilihat sebagai pribadi-pribadi yang mendampingi komunitas, berbicara dalam bahasa mereka, memahami pengalaman mereka, serta membantu memulihkan harapan dan kerukunan budaya.