Cari

Sampul buku Artificial Intelligence and the Catholic Church Sampul buku Artificial Intelligence and the Catholic Church 

Teolog Filipina ulas tanggapan Gereja terhadap kecerdasan Artifisial

Di tengah semakin besarnya pengaruh kecerdasan buatan terhadap cara manusia bekerja, berkomunikasi, belajar, dan mengambil keputusan, dua teolog Dominikan asal Filipina mengajak Gereja Katolik untuk melihat lebih jauh daripada sekadar teknologi. Pertanyaan mendasarnya adalah: bagaimana AI dapat dikembangkan dan digunakan demi melindungi martabat manusia serta melayani kebaikan bersama?

Oleh P. Kasmir Nema, SVD, dan Sr. Helen Ann Palacay, FMIJ – Manila

Sebuah buku baru berjudul Artificial Intelligence and the Catholic Church: Challenges, Discernment and Hope in a Digital Age mengangkat berbagai pertanyaan etis, teologis, dan pastoral yang muncul seiring pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) dalam masyarakat, serta dalam kehidupan dan misi Gereja.

Diterbitkan oleh Claretian Communications, buku tersebut ditulis oleh Leo-Martin Angelo R. Ocampo, OP, dan Ivan Efreaim A. Gozum, OP. Keduanya merupakan dosen di Institut Agama sekaligus peneliti pada Pusat Teologi, Studi Agama, dan Etika di Universitas Kepausan dan Kerajaan Santo Tomas di Manila.

Dengan memadukan perspektif teologi, etika, dan ilmu-ilmu sosial, kedua penulis tidak memandang AI semata-mata sebagai sebuah inovasi teknologi, melainkan sebagai perkembangan yang tengah mengubah relasi antarmanusia, dunia kerja, pendidikan, komunikasi, tata kelola, dan kehidupan sosial.

Melampaui ketakutan dan kekaguman

Buku ini hadir pada saat Gereja Katolik terus memperdalam refleksinya mengenai peluang dan tantangan yang ditimbulkan oleh kecerdasan buatan.

Dalam Surat Ensikliknya Magnifica Humanitas, Paus Leo XIV menempatkan AI dan berbagai teknologi baru lainnya di antara “hal-hal baru” yang menjadi ciri khas zaman kita. Ia menyerukan kebijaksanaan dan penegasan bersama agar perkembangan teknologi tetap berorientasi pada martabat manusia dan kebaikan bersama.

Paus memperingatkan agar manusia tidak jatuh ke dalam antusiasme yang tidak kritis terhadap teknologi, tetapi juga tidak dikuasai oleh ketakutan yang tidak berdasar. Sebaliknya, ia mengajak untuk mengembangkan pendekatan yang berakar pada martabat manusia, keberpihakan kepada kaum miskin, kepedulian terhadap ciptaan, dan upaya membangun perdamaian.

Di pusat penegasan tersebut terdapat sebuah pertanyaan mendasar: Bagaimana manusia dapat tetap sepenuhnya manusiawi di tengah dunia yang semakin dikuasai teknologi?

Ocampo dan Gozum mengangkat pertanyaan ini dalam seluruh pembahasan buku mereka. Alih-alih sekadar mempertanyakan apakah AI harus diterima atau ditolak, mereka menelaah bagaimana teknologi tersebut dapat dirancang, diatur, dan digunakan untuk melayani manusia dan komunitas.

Pembahasan mereka mencakup persoalan kebebasan dan tanggung jawab, relasi antarmanusia, pendidikan dan dunia kerja, komunikasi, tata kelola, serta kebaikan bersama. Mereka juga mengulas dampak AI terhadap pendidikan agama, pelayanan pastoral, evangelisasi, dan refleksi teologis.

Bagi kedua penulis, AI bukanlah sekadar persoalan teknis. Perkembangannya mengangkat pertanyaan mendasar tentang makna menjadi manusia dan tentang masyarakat seperti apa yang ingin dibangun oleh umat manusia.

‘Kebijaksanaan, kejelasan moral, dan harapan Injili’

Dalam kata pengantar buku tersebut, Kardinal José F. Advincula, Uskup Agung Manila, menyebut kecerdasan buatan sebagai “salah satu transformasi terpenting pada zaman kita.”

Menurutnya, AI dengan cepat mengubah cara manusia bekerja, berkomunikasi, menjalankan pemerintahan, belajar, dan memahami diri mereka sendiri. Bagi Gereja, perubahan ini bukan alasan untuk menarik diri, melainkan sebuah panggilan untuk terlibat.

Gereja, tulis Kardinal Advincula, dipanggil untuk menghadapi tantangan kecerdasan buatan “dengan kebijaksanaan, kejelasan moral, dan harapan Injili.”

Ia memuji kedua penulis karena menunjukkan bagaimana Gereja dapat dengan setia mendampingi umat manusia ketika AI semakin menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Buku ini juga mendapat sambutan positif dari para teolog di luar Filipina.

P. Daniel Patrick Huang, SJ, koordinator Program Spesialisasi Misiologi di Universitas Kepausan Gregorian di Roma, menyebut buku tersebut sebagai sebuah pengantar yang berharga mengenai kecerdasan buatan, pada saat dampaknya terhadap kehidupan manusia semakin nyata.

Ia menyoroti perhatian kedua penulis terhadap peluang sekaligus risiko AI, serta pendekatan mereka yang disebutnya sebagai “harapan realistis”, sebuah pendekatan yang dikaitkannya dengan tradisi intelektual Dominikan.

Stephan van Erp, OP, Profesor Teologi Fundamental di KU Leuven dan Professorial Fellow di Australian Catholic University, juga menyebut buku tersebut sebagai “pengantar yang tepat waktu dan kaya informasi mengenai kecerdasan buatan.”

Ia secara khusus menyoroti pembahasan buku tersebut mengenai dampak AI terhadap pendidikan dan perekonomian, serta keterlibatannya dalam berbagai pertanyaan tentang kebenaran, keadilan, martabat manusia, dan harapan.

Suara Filipina dalam percakapan global

Bagi Ocampo dan Gozum, percakapan mengenai kecerdasan buatan pada akhirnya tidak dapat dipisahkan dari misi Gereja untuk membela martabat manusia dan mendampingi masyarakat di tengah perubahan sosial yang berlangsung begitu cepat.

Karya mereka juga mencerminkan semakin berkembangnya keterlibatan para teolog Katolik di Filipina dalam menjawab berbagai pertanyaan yang muncul dari transformasi digital masyarakat.

Ketika AI semakin hadir dalam kehidupan sehari-hari, tantangannya bukan lagi semata-mata memahami apa yang dapat dilakukan oleh teknologi tersebut. Tantangan yang lebih mendalam adalah menegaskan apa yang seharusnya dilakukan manusia dengan teknologi itu — dan nilai-nilai apa yang harus membimbing pilihan-pilihan tersebut.

Buku ini menambahkan suara teologis dari Filipina ke dalam percakapan global mengenai kecerdasan buatan, seraya menyerukan agar kemajuan teknologi senantiasa tetap berada dalam pelayanan kepada pribadi manusia, relasi antarmanusia, dan kebaikan bersama.

27 Aug 2026, 14:47