Kardinal Cupich: Ensiklik Perdana Paus Leo XIV Jadi “Lensa Baru” Ajaran Sosial Gereja
Oleh Deborah Castellano Lubov
VATIKAN — Kardinal Blase Cupich, Uskup Agung Chicago, menyebut ensiklik perdana Paus Leo XIV berjudul Magnifica humanitas sebagai sebuah “lensa baru” untuk membaca seluruh Ajaran Sosial Gereja di tengah perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan revolusi digital global.
Dalam wawancara dengan Vatican News, Kardinal Cupich mengatakan bahwa ensiklik tersebut menjadi peringatan serius mengenai ancaman teknologi yang berkembang melampaui kemampuan manusia untuk mengendalikannya.
“Dokumen ini memberi kita lensa baru untuk membaca seluruh Ajaran Sosial Gereja,” ujar Kardinal Cupich.
Ensiklik Magnifica humanitas sendiri berfokus pada perlindungan martabat manusia di era kecerdasan buatan. Dalam dokumen tersebut, Paus Leo XIV mengajak dunia memilih antara membangun “Yerusalem Baru” atau “Menara Babel” modern.
Menurut Kardinal Cupich, simbol Yerusalem Baru merujuk pada masyarakat yang dibangun atas kerja sama, solidaritas, dan Allah sebagai pusat kehidupan bersama. Ia mengutip kisah Nabi Nehemia yang membangun kembali Yerusalem bersama seluruh rakyat setelah masa pembuangan.
“Pembangunan itu tidak dilakukan oleh satu individu yang kuat, melainkan melalui tanggung jawab bersama,” katanya.
Sebaliknya, Menara Babel digambarkan sebagai simbol kesombongan manusia yang ingin mencapai surga tanpa Allah. Akibatnya, komunikasi runtuh dan manusia kehilangan kemampuan untuk saling memahami.
Kardinal Cupich menilai pesan Paus Leo XIV sangat relevan bagi kota Chicago yang dikenal sebagai pusat bisnis, teknologi, inovasi, dan industri di Amerika Serikat.
Menurutnya, reaksi awal terhadap ensiklik tersebut cukup positif, terutama di kalangan mahasiswa dan generasi muda yang akan paling terdampak oleh perkembangan teknologi baru.
“Teknologi baru ini akan memiliki konsekuensi mendalam bagi masa depan mereka,” ujarnya.
Ia mengatakan banyak mahasiswa menunjukkan antusiasme untuk membaca dokumen tersebut dan mengapresiasi perhatian Paus terhadap isu kemanusiaan di era digital.
Kardinal Cupich juga menegaskan bahwa Paus Leo XIV ingin menempatkan ajaran sosial Gereja bukan sekadar sebagai pilihan moral yang dapat diterima atau diabaikan umat Katolik, melainkan sebagai bagian penting dari kehidupan iman Gereja.
Dalam ensiklik itu, Paus Leo XIV juga banyak merujuk ensiklik Rerum Novarum karya Paus Leo XIII yang menjadi tonggak Ajaran Sosial Gereja modern pada masa Revolusi Industri.
Ketika ditanya apakah revolusi digital saat ini dapat dibandingkan dengan Revolusi Industri pada abad ke-19, Kardinal Cupich mengatakan terdapat sejumlah kesamaan, tetapi juga perbedaan penting.
“Teknologi baru ini memiliki potensi melampaui kemampuan kita untuk mengendalikannya, dan Paus sedang membangunkan kita agar segera menyadari urgensi situasi ini,” katanya.
Menurut Kardinal Cupich, pesan utama Paus Leo XIV adalah bahwa perkembangan teknologi harus selalu ditempatkan dalam kerangka penghormatan terhadap martabat manusia, solidaritas sosial, dan tanggung jawab moral bersama.
Ensiklik Magnifica humanitas dipandang sebagai salah satu dokumen penting awal kepemimpinan Paus Leo XIV yang menegaskan perhatian Gereja Katolik terhadap tantangan etika dan kemanusiaan di era kecerdasan buatan.
