Takhta Suci Serukan Komitmen Moral untuk Lindungi Warga Sipil dalam Konflik
oleh Linda Bordoni
NEW YORK — Takhta Suci menyerukan komitmen moral global untuk melindungi warga sipil di tengah meningkatnya konflik bersenjata di berbagai belahan dunia. Seruan itu disampaikan dalam Sidang Terbuka Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai “Perlindungan Warga Sipil dalam Konflik Bersenjata” yang berlangsung di New York pekan ini.
Dalam pidatonya, delegasi Takhta Suci menyoroti kenyataan tragis yang dialami jutaan warga sipil yang menjadi korban utama perang modern, mulai dari pengungsian, kekerasan, kelaparan, hingga runtuhnya layanan kesehatan dan kebutuhan dasar.
Menurut Takhta Suci, perlindungan terhadap warga sipil bukan sekadar persoalan politik atau operasional, melainkan sebuah kewajiban moral yang mendasar bagi kemanusiaan.
Delegasi Vatikan mengutip pernyataan Paus Leo XIV yang menegaskan bahwa prinsip kemanusiaan yang tertanam dalam hati nurani setiap orang dan diakui dalam hukum internasional mengandung kewajiban moral untuk melindungi penduduk sipil dari dampak mengerikan perang.
Dalam kesempatan itu, Takhta Suci menyampaikan tiga perhatian utama terkait situasi konflik global saat ini.
Perlindungan terhadap tempat ibadah dan komunitas keagamaan
Pertama, Vatikan menyoroti meningkatnya serangan terhadap tempat ibadah dan komunitas religius di berbagai wilayah konflik. Menurut Takhta Suci, serangan terhadap tempat-tempat suci tidak hanya menghancurkan bangunan fisik, tetapi juga melukai kehidupan spiritual dan jalinan sosial masyarakat.
Vatikan menekankan bahwa dalam situasi perang, tempat-tempat ibadah sering kali menjadi ruang perlindungan bagi masyarakat, pusat bantuan kemanusiaan, dan simbol solidaritas. Karena itu, perlindungan terhadap kebebasan beragama dinilai penting untuk menjaga martabat manusia sekaligus membuka jalan rekonsiliasi.
Perlindungan terhadap personel dan fasilitas medis
Kedua, Takhta Suci menyoroti masih maraknya serangan terhadap tenaga medis dan fasilitas kesehatan meskipun dunia internasional telah memiliki berbagai regulasi perlindungan kemanusiaan. “Orang yang terluka dan sakit tidak boleh ditolak untuk mendapatkan perawatan, dan mereka yang memberikan bantuan kemanusiaan tidak boleh menjadi sasaran serangan,” tegas delegasi Vatikan.
Keprihatinan etis dan teknologi yang baru bermunculan dalam peperangan
Ketiga, Vatikan mengangkat persoalan etika penggunaan teknologi baru dalam peperangan, khususnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Takhta Suci memperingatkan bahwa tidak ada mesin yang dapat menggantikan pertimbangan moral manusia ketika nyawa manusia dipertaruhkan.
Menurut Vatikan, penggunaan teknologi tanpa kendali manusia yang bermakna berisiko menjauhkan para pengambil keputusan dari penderitaan nyata akibat perang dan melemahkan tanggung jawab moral terhadap perlindungan warga sipil.
Imbauan
Menutup pernyataannya, Takhta Suci menyerukan penghormatan penuh terhadap hukum humaniter internasional serta mendorong dunia internasional mengutamakan pencegahan konflik, dialog, dan penyelesaian damai. “Perdamaian sejati dibangun bukan melalui ketakutan atau penghancuran, melainkan melalui perjumpaan, kepercayaan, dan tanggung jawab bersama,” kata delegasi Vatikan.
Takhta Suci juga kembali mengutip pesan Paus Leo XIV bahwa perdamaian dimulai dari setiap pribadi, dari cara manusia memandang, mendengarkan, dan berbicara satu sama lain.