Cari

Para peraih Nobel dan ahli bahas perang nuklir serta AI di Borgo Laudato Si'

Lebih dari 200 peraih Hadiah Nobel, mantan kepala negara, perwakilan universitas, dan para pakar berkumpul pada Selasa, 14 Juli, di tengah pepohonan pinus dan kebun zaitun di Taman Kepausan Castel Gandolfo untuk membahas kecerdasan buatan (AI) dan perang nuklir.

Oleh Isabella H. de Carvalho

Lebih dari 200 peraih Hadiah Nobel, mantan kepala negara, perwakilan universitas, dan para pakar berkumpul pada Selasa, 14 Juli, di tengah pepohonan pinus dan kebun zaitun di Taman Kepausan Castel Gandolfo untuk membahas kecerdasan buatan (AI) dan perang nuklir.

Pertemuan tersebut merupakan hari pertama Pertemuan  Peraih Nobel Sedunia untuk Kecerdasan Buatan dan Perang Nuklir, yang berlangsung hingga Kamis, 16 Juli. Acara ini terinspirasi oleh ensiklik Paus Leo XIV, Magnifica Humanitas, mengenai perlindungan martabat manusia di era kecerdasan buatan.

Peserta Peraih Nobel Sedunia untuk Kecerdasan Buatan dan Perang Nuklir
Peserta Peraih Nobel Sedunia untuk Kecerdasan Buatan dan Perang Nuklir

Sidang ini akan ditutup dengan penandatanganan Deklarasi Roma tentang Perdamaian Tanpa Senjata dan Perlucutan Senjata di era kecerdasan buatan, senjata nuklir dan senjata otonom, protokol digital baru, serta model-model pembangunan digital yang sedang berkembang. Deklarasi tersebut bertujuan menawarkan prinsip-prinsip dasar bagi tata kelola AI yang berpusat pada kerja sama, martabat manusia, pembangunan integral, dan perdamaian.


Selama tiga hari, peserta akan mengikuti berbagai sesi diskusi mengenai tema-tema seperti "Kerapuhan keluarga manusia di era nuklir", "Teknologi untuk melayani kemanusiaan", dan "Tantangan moral AI dan perang".

Dua hari pertama diselenggarakan di Borgo Laudato Si', kawasan di Taman Kepausan Castel Gandolfo, sedangkan hari terakhir akan berlangsung di Bukit Capitoline, pusat pemerintahan Kota Roma.

Perlunya prinsip-prinsip bersama

"Kita berkumpul pada saat sejarah ditandai oleh meningkatnya ketegangan geopolitik, terpecahnya tatanan internasional, dan persaingan teknologi yang semakin intens," kata Kardinal Fabio Baggio, Wakil Prefek Dikasteri untuk Pelayanan Pembangunan Manusia Seutuhnya sekaligus Direktur Jenderal Pusat Pendidikan Tinggi Borgo Laudato Si', dalam sambutan pembukaannya.

Ia menegaskan bahwa berbagai tantangan tersebut berlangsung bersamaan dengan perkembangan pesat kecerdasan buatan dan teknologi otonom.

Karena itu, Kardinal Baggio menekankan pentingnya pertemuan ini serta perlunya mendorong dialog lintas disiplin. "Pada saat laju inovasi sering kali melampaui laju refleksi, dunia membutuhkan prinsip-prinsip bersama yang mampu mengarahkan kemajuan menuju tujuan-tujuan yang sungguh manusiawi," ujarnya.

Sementara itu, Kardinal Silvano Maria Tomasi, Presiden Domus Communis Foundation, menegaskan bahwa pertemuan ini bukan sekadar untuk menganalisis berbagai risiko.

"Pertemuan ini diselenggarakan untuk membangkitkan kembali harapan, menunjukkan bahwa dialog masih mungkin dilakukan, bahwa kebijaksanaan masih dapat berjalan seiring dengan pengetahuan, dan bahwa umat manusia belum kehilangan kemampuan untuk menentukan masa depannya sendiri."

Ia menambahkan, "Semoga generasi mendatang dapat mengatakan bahwa ketika umat manusia memiliki kekuatan yang belum pernah terjadi sebelumnya atas nasibnya sendiri, perempuan dan laki-laki yang berhati nurani memilih kerja sama daripada konfrontasi, dialog daripada ketakutan, dan harapan daripada keputusasaan."

Perlunya tata kelola kecerdasan buatan

Sesi pembukaan mengangkat tema "Magnifica Humanitas untuk Masa Depan Rumah Bersama Kita", sejalan dengan banyaknya pembahasan yang terinspirasi oleh ensiklik pertama Paus Leo XIV yang diterbitkan pada bulan Mei lalu.

Sesi diawali dengan pidato Kardinal Ángel Fernández Artime, Wakil Prefek Dikasteri untuk Lembaga Hidup Bakti dan Serikat Hidup Kerasulan, yang memberikan gambaran umum mengenai isi ensiklik Bapa Suci tersebut.

Kardinal Artime sedang berpidato
Kardinal Artime sedang berpidato

Selanjutnya, sejumlah tokoh terkemuka menyampaikan pandangan mereka, termasuk Juan Manuel Santos, peraih Hadiah Nobel Perdamaian sekaligus mantan Presiden Kolombia. Ia menyambut baik seruan Paus Leo XIV dalam Magnifica Humanitas untuk "melucuti" kecerdasan buatan, seraya menegaskan bahwa "hanya dengan bertindak dalam semangat yang sama kita dapat berharap mengatasi seluruh ancaman eksistensial yang dihadapi umat manusia."

Santos menambahkan bahwa, "Tanpa tata kelola yang efektif, akan sangat sulit, bahkan mustahil, memastikan bahwa kecerdasan buatan menjadi kekuatan untuk kebaikan yang dipandu oleh martabat manusia, tanggung jawab, akuntabilitas, dan supremasi hukum."

Prof. Muhammad Yunus, Peraih Nobel Perdamaian dan Penasehat senior emeritus pemerintah Bangladesh
Prof. Muhammad Yunus, Peraih Nobel Perdamaian dan Penasehat senior emeritus pemerintah Bangladesh

Sementara itu, Prof. Muhammad Yunus, peraih Hadiah Nobel Perdamaian dan Penasihat Utama Emeritus Bangladesh, menekankan bahwa dunia saat ini sedang menyaksikan berakhirnya sebuah peradaban dan lahirnya peradaban baru. Karena itu, menurutnya, kaum muda harus dilibatkan secara aktif dalam membentuk masa depan dunia.

Pembicara lain dalam sesi tersebut antara lain Dr. Agnès Callamard, Sekretaris Jenderal Amnesty International; Dr. Amir Banifatemi, pendiri dan anggota dewan International Association for Safe and Ethical AI; Prof. James Muller, salah seorang pendiri International Physicians for the Prevention of Nuclear War (organisasi penerima Hadiah Nobel Perdamaian tahun 1985); Prof. Karen Hallberg, Sekretaris Jenderal Pugwash Conferences (organisasi penerima Hadiah Nobel Perdamaian tahun 1995); serta Prof. David Gross, peraih Hadiah Nobel Fisika dan Chancellor's Chair Professor di University of California, Santa Barbara.

Sepanjang sisa pagi hingga sore hari, para peserta mengikuti berbagai sesi diskusi yang membahas beragam tema, termasuk kemungkinan ketika kecerdasan buatan berada di luar kendali manusia. Sejumlah pembicara turut menyampaikan pandangannya, di antaranya Maria Ressa, peraih Hadiah Nobel Perdamaian sekaligus pendiri  dan CEO Rappler, serta para peneliti AI dari berbagai lembaga seperti Anthropic Institute dan DeepMind, yang menawarkan beragam perspektif mengenai isu-isu tersebut.

Wawancara dengan Maria Ressa
14 Jul 2026, 14:59