Cari

Nassera Kermiche (kiri) dan Roseline Hamel (tengah) berbicara kepada Vatican News di sela-sela Pertemuan Rimini untuk Persahabatan Antarbangsa. Nassera Kermiche (kiri) dan Roseline Hamel (tengah) berbicara kepada Vatican News di sela-sela Pertemuan Rimini untuk Persahabatan Antarbangsa. 

Roseline Hamel dan Nassera Kermiche: Melampaui Kesedihan

Di sela-sela Pertemuan Rimini untuk Persahabatan Antarbangsa tahun 2026, Roseline Hamel dan Nassera Kermiche, yang kemudian dikenal sebagai “saudari dalam kesedihan”, berbicara kepada Vatican News tentang tragedi yang mempersatukan mereka. Roseline adalah saudari Pastor Jacques Hamel, imam asal Prancis yang tewas ketika merayakan Misa dalam sebuah serangan teroris pada tahun 2016. Nassera adalah ibu dari salah satu dari dua remaja pelaku serangan tersebut, yang kemudian ditembak mati oleh polisi

Berikut adalah transkrip wawancara dengan Roseline Hamel dan Nassera Kermiche. Wawancara ini telah diterjemahkan dari bahasa Prancis dan disunting demi kelancaran serta keterbacaan.

Anda dapat menyaksikan wawancara lengkapnya, dalam bahasa Prancis, di sini.

Tanya: Roseline, apa yang mendorong Anda untuk menghubungi Nassera?

Roseline Hamel: Itu adalah pertanyaan yang saya ajukan kepada diri saya sendiri setiap hari. Saya bertanya-tanya siapa yang mungkin menderita lebih besar daripada saya. Perjalanannya panjang, berlangsung hampir satu tahun, dan selama itu saya terus menanyakan hal tersebut kepada Tuhan. Semua percakapan saya dengan-Nya seperti sebuah doa, tetapi saya tidak menerima jawaban.

Kemudian, pada suatu pagi, saya berpaling kepada Tuhan dan berkata: “Ya Tuhan, katakan kepada saya siapa yang mungkin menderita lebih besar daripada saya.” Bagi saya, hal itu tampaknya tidak mungkin.

Keesokan paginya, saya mulai memikirkan perempuan yang tidak saya kenal itu—seorang ibu, yang juga seorang ibu seperti saya. Saya membalikkan posisi kami dan mencoba menempatkan diri saya pada posisinya. Saya membayangkan rasa sakitnya, penderitaannya, dan berbulan-bulan pergumulan yang harus dilaluinya bersama putranya yang masih muda, yang telah membiarkan dirinya terseret ke jalan yang tidak pernah diinginkan ibunya baginya.

Saya membayangkan tatapan penuh penghinaan yang mungkin harus ia hadapi dan beban rasa bersalah yang harus ia tanggung sebagai seorang orang tua. Saat itulah saya menyadari bahwa saya telah menemukan orang yang mungkin menderita lebih besar daripada saya.

Saya berkata kepada diri sendiri: “Itulah dia. Saya telah menemukan jalan kembali menuju kehidupan, makna yang telah saya cari sejak pemakaman dan sejak saya kembali ke rumah.” Lalu saya berkata kepada diri sendiri: “Sekarang, Roseline, kamu harus melakukan sesuatu. Kamu harus menemukan jalan menuju rumah tempat ibu itu tinggal.”

Tanya: Nassera, apa yang Anda rasakan ketika Roseline mengetuk pintu rumah Anda untuk pertama kalinya?

Nassera Kermiche: Itu juga merupakan perjalanan yang panjang, karena pertama-tama kami berbicara melalui telepon. Pada awalnya, percakapan kami sangat singkat. Namun, sedikit demi sedikit, dialog yang tulus berkembang di antara kami.

Suatu hari, Roseline bertanya kepada saya: “Jika saya datang ke Saint-Étienne, apakah Anda bersedia bertemu dengan saya?” Saya menjawab: “Tentu saja. Saya sudah lama menantikan Anda.”

Saya telah cukup lama berharap akan pertemuan itu. Saya sebelumnya telah mencoba bertemu dengan para suster yang berada di dalam gereja ketika serangan itu terjadi, tetapi hal tersebut tidak memungkinkan.

Karena itu, saya sangat bahagia dapat bertemu dengan Roseline. Ketika ia tiba di depan pintu rumah saya dan saya membukanya, saya begitu terharu dan bahagia sehingga tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut saya selain: “Maafkan saya, maafkan saya.” Hanya itu yang bisa saya katakan, karena saya membutuhkan pengampunannya.

Tanya: Roseline, Anda berbicara tentang pengampunan sebagai sebuah perjalanan. Apakah ada saat tertentu ketika Anda memahami atau merasakan bahwa pengampunan itu mungkin?

Roseline Hamel: Saya tidak pernah benar-benar memikirkan betapa sulitnya pengampunan. Mungkin sebelumnya saya tidak pernah memiliki alasan untuk melakukannya. Mengampuni, tentu saja, selalu sulit, dan itu bergantung pada besarnya kesalahan yang dilakukan.

Hingga saat itu, saya menghadapi kesulitan-kesulitan biasa dalam hidup. Seperti yang sering dikatakan putri saya kepada saya: “Lepaskan saja, Mama.” Dan saya cukup mudah melepaskan berbagai hal karena saya masih memiliki banyak hal lain untuk dijalani. Ketika Anda membesarkan anak-anak, Anda tidak bisa terus-menerus memikirkan sesuatu yang telah menyakiti atau menyinggung perasaan Anda.

Namun, dalam situasi yang mempertemukan kami hari ini, memberikan pengampunan tampak, di mata masyarakat, sebagai sesuatu yang sangat besar dan nyaris mustahil dilakukan. Mengapa? Karena kami tidak menganut agama yang sama dan segala sesuatu tampaknya telah ditakdirkan untuk memisahkan kami.

Hari tragis itu, hari kekerasan mematikan yang kami berdua alami, seharusnya menumbuhkan kebencian terhadap keluarga ini. Namun kebencian membawa kepada balas dendam, kekerasan, dan penghancuran kemanusiaan kita sendiri.

Saya tidak tahu apakah pengorbanan nyawa-nyawa itu yang membuat kami menerima rahmat Tuhan untuk tidak merasakan kebencian. Tidak seorang pun anggota keluarga saya merasakannya.

Tiga hari sebelum pemakaman, Uskup Agung Rouen datang ke rumah saudara perempuan saya untuk membantu kami mengaturnya. Ada dua belas orang di sebuah apartemen kecil yang sebenarnya diperuntukkan bagi empat orang. Sebelum kami mulai, beliau mengajukan sebuah pertanyaan: “Apakah kalian merasakan kebencian?”

Saya bertanya-tanya mengapa beliau menanyakan hal itu kepada kami, karena kebencian bahkan tidak pernah terlintas dalam pikiran saya. Saya mulai bertanya-tanya apakah anggota keluarga saya yang lain takut untuk mengakuinya, atau apakah mereka juga tidak merasakannya.

Putri bungsu saya kemudian menjawab dengan suara tercekat: “Bapa, penderitaan ini begitu besar sehingga tidak ada ruang bagi kebencian.” Itu adalah sebuah momen yang aneh sekaligus indah—sebuah rahmat dari Tuhan yang telah dianugerahkan kepada kami.

Beberapa bulan kemudian, saya menonton sebuah laporan di komputer putri saya tentang kaum muda yang berada di Kraków untuk Hari Orang Muda Sedunia. Para imam meminta mereka berhenti bernyanyi dan menari, segera masuk ke gereja-gereja terdekat, dan berdoa agar kebencian tidak berakar.

Lalu saya berkata kepada putri saya: “Sekarang saya tahu mengapa kami tidak merasakan kebencian.” Ribuan kaum muda dari setiap bangsa telah berdoa pada hari itu agar kebencian tidak berakar. Karena itu, tidak mengherankan jika kami tidak mengalaminya.

Iman saya pernah hancur, tetapi perlahan-lahan mulai dibangun kembali. Iman itu dibangun kembali melalui jalan perjumpaan ini, melalui waktu yang kami habiskan bersama, melalui percakapan kami, dan melalui penemuan tentang sosok Adel ketika masih kecil—masa kecilnya, kegembiraannya, pilihan-pilihannya, dan kesulitan-kesulitannya.

Sebagaimana iman saya pernah hancur dan diinjak-injak, hari ini iman saya kuat. Hari ini, saya berani berbicara tentangnya.

Tanya: Nassera, Anda menanggung rasa sakit yang luar biasa karena kehilangan putra dalam keadaan seperti itu, tetapi saya membayangkan Anda juga mengalami banyak bentuk penderitaan dan pertanyaan lainnya. Apa saja itu?

Nassera Kermiche: Selain rasa sakit karena kehilangan seorang putra dalam keadaan seperti itu, ada juga rasa bersalah, malu, dan marah.

Saya terus-menerus bertanya kepada diri sendiri: “Mengapa?” Saya tidak memahami apa yang telah terjadi. Saya tidak dapat memahami serangan itu dan sama sekali tidak pernah menduganya. Saya mencari jawaban, tetapi saya tidak menemukannya.

Saya marah kepada masyarakat dan kepada semua orang yang pernah saya mintai bantuan, tetapi tidak membantu saya. Saya marah kepada semua orang.

Saya juga merasa malu atas apa yang telah terjadi, karena putra saya telah melakukan sesuatu yang mengerikan. Dan saya merasa bersalah. Saya berkata kepada diri sendiri: “Saya adalah ibunya. Saya dan ayahnya membesarkannya. Di mana kami melakukan kesalahan? Kesalahan apa yang kami buat dalam membesarkannya sehingga putra kami menjadi seperti ini?”

Semua perasaan itu saling bercampur dan membuat rasa sakit menjadi semakin dalam.

Tanya: Roseline, sepuluh tahun setelah kematiannya, apa yang ingin Anda agar dunia kenang tentang saudara Anda, Jacques—bukan hanya tentang kematiannya, tetapi terutama tentang kehidupan dan pelayanannya?

Roseline Hamel: Pertama-tama, saya ingin orang-orang mengingat bahwa hidupnya adalah hidup yang diberikan bagi sesama. Sejak masa kanak-kanak, ia ingin mempersembahkan hidupnya kepada Tuhan.

Orang-orang hendaknya mengingat kehidupannya yang sangat sederhana, yang dijalani dengan kerendahan hati yang besar. Ia sedikit seperti seekor burung pipit, merasa cukup dengan sangat sedikit tetapi memberikan begitu banyak.

Pada awalnya ia mungkin tampak agak dingin, terutama ketika ia tiba di sebuah paroki baru dan belum mengenal siapa pun. Ia sangat pemalu. Namun, begitu orang-orang mengenalnya dan mencurahkan kesulitan serta cobaan mereka kepadanya, mereka menemukan sosok yang berbeda.

Ketika saya mengunjungi saudara saya, para umat paroki sering berkata kepada saya: “Anda tahu, saudara Anda adalah seseorang yang harus benar-benar dikenal.” Setelah ia mengenal orang-orang, ia menjadi hangat. Mereka senang mendengarkannya berbicara dan menerima penghiburan darinya. Anak-anak juga sangat bahagia ketika ia mengajarkan katekismus kepada mereka.

Ia terus-menerus harus berusaha mengatasi rasa malunya dan membuka diri kepada orang lain, tetapi ia menemukan kekuatan untuk melakukannya. Bahkan, pada akhir masa studinya di seminari, direktur seminari pernah mengatakan bahwa Jacques akan sulit menjadi seorang imam karena berbicara di depan umum begitu sulit baginya.

Sejak awal masa imamatnya, ia ingin mengikuti jejak Charles de Foucauld dan menjadi seorang Bapa Putih, tetapi ia diberi tahu bahwa kesehatannya tidak cukup kuat. Hal itu menyebabkan rasa sakit dan kekecewaan yang mendalam baginya.

Ketika semakin dewasa, ia sering berbicara kepada saya tentang kehidupan Charles de Foucauld. Kami juga sering berbicara tentang para rahib Tibhirine, terutama setelah film Of Gods and Men dirilis. Saudara saya sangat sederhana dan agak tertutup. Ia tidak pernah pergi ke bioskop, tetapi ketika film itu dirilis, ia menelepon saya untuk mengatakan bahwa ia telah pergi menontonnya.

Charles de Foucauld, para rahib Tibhirine, dan serangan-serangan teroris yang terjadi pada waktu itu sering menjadi bagian dari percakapan kami. Kemampuan manusia untuk memikirkan hal-hal yang begitu jahat sangat menyedihkannya.

Tanya: Nassera, ketika Anda bertemu dengan kaum muda saat ini, apa yang ingin Anda sampaikan kepada mereka untuk membantu mencegah mereka terseret oleh pesan-pesan kekerasan dan kebencian?

Nassera Kermiche: Saya akan mengatakan kepada mereka bahwa media sosial memiliki beberapa keuntungan karena memungkinkan mereka mempelajari banyak hal, tetapi juga menghadirkan bahaya. Banyak sekali konten yang dapat membawa mereka ke arah yang salah.

Karena itu, saya akan berkata kepada mereka: “Berhati-hatilah terhadap apa yang kalian dengarkan. Bicarakan hal itu dengan orang tua kalian. Tanyakan kepada mereka apakah apa yang kalian dengar itu benar dan apakah kalian sedang mengikuti jalan yang benar.”

Kaum muda terkadang tertarik pada hal-hal yang mudah: jika sesuatu itu mudah, mereka mengira itu pasti baik; jika sesuatu itu sulit, mereka mengira itu pasti salah. Padahal, jalan yang lebih sulit terkadang justru merupakan jalan yang benar.

Saya akan menasihati mereka untuk berhati-hati dan mendengarkan orang tua mereka, karena orang tua tidak akan dengan sengaja membawa anak-anak mereka ke arah sesuatu yang berbahaya.

Penting juga bagi mereka untuk mempelajari dasar-dasar agama mereka sejak kecil. Dengan begitu, mereka akan mampu mengenali orang-orang yang mencoba mengatakan kepada mereka hal-hal yang tidak benar dan tidak akan membiarkan diri mereka tersesat.

Tanya: Kalian telah menjadi “saudari dalam kesedihan”. Apa yang ingin kalian bangun melalui persahabatan dan kesaksian kalian?

Nassera Kermiche: Setiap kali kami memberikan konferensi atau membagikan kesaksian—dan juga melalui buku kami—kami berusaha menyampaikan pesan perdamaian dan menaburkan benih-benih perdamaian di seluruh dunia.

Kami ingin orang-orang memahami bahwa perang tidak menghasilkan apa-apa. Perang hanya membawa kehancuran, kesedihan, dan kepahitan. Jika kita berhasil hidup bersama dalam damai di bumi ini, umat manusia akan terselamatkan. Namun saat ini, kita justru sedang menuju kehancuran.

Perang-perang yang terjadi saat ini adalah perang demi uang, politik, dan kekuasaan. Padahal, kita tidak membutuhkan semua itu. Kita hanya ingin dapat hidup bersama dalam damai.

Roseline Hamel: Pesan yang ingin kami sampaikan melalui buku dan kesaksian kami adalah bahwa, bertentangan dengan segala dugaan, kita dapat saling berjumpa melampaui rasa sakit, melampaui pelanggaran, melampaui kritik, melampaui prasangka, dan melampaui perbedaan-perbedaan kita. Itulah makna dari teladan dan kesaksian kami.

Karena Nassera dan saya berani untuk saling bertemu, bersama-sama kami menemukan kembali kedamaian batin, nafas kehidupan yang baru, dan kekuatan harapan yang kami yakini telah hilang untuk selamanya.

Karena itu, saya menyampaikan pesan ini kepada semua orang: marilah kita berani untuk saling berjumpa melampaui perbedaan dan prasangka kita. Berjumpa dengan Tuhan berarti berjumpa dengan sesama.

Kalimat-kalimat ini mungkin terdengar biasa, tetapi mengandung makna yang sangat berharga. Dengan berani menjangkau sesama—merangkul perbedaan, cobaan, dan penderitaan mereka—perjumpaan kita membangun kemanusiaan, memperkuat persaudaraan, dan tidak menyisakan ruang bagi kebencian, balas dendam, maupun kekerasan.

24 Aug 2026, 16:27