Cari

Paus Leo XIV dalam audiensi umum 26 Agustus Paus Leo XIV dalam audiensi umum 26 Agustus   (@Vatican Media)

Paus dalam Audiensi: Partisipasi aktif dalam liturgi membawa kita kepada relasi dengan Allah

Dalam Audiensi Umum hari Rabu, Paus Leo XIV merefleksikan keputusan para Bapa Konsili Vatikan II untuk mendorong pembaruan liturgi, dengan memusatkan perhatian pada Konstitusi tentang Liturgi Suci tahun 1963, Sacrosanctum Concilium.

Oleh Isabella H. de Carvalho

Dalam Audiensi Umum hari Rabu di Basilika Santo Petrus pada 26 Agustus, Paus Leo XIV menyoroti pentingnya pembaruan liturgi yang dilaksanakan oleh Konsili Vatikan II. Pembaruan tersebut mendorong umat beriman untuk berpartisipasi secara lebih aktif dalam liturgi dan memasuki relasi yang lebih mendalam dengan Allah.

“Melalui tindakan-tindakan ritual Gereja, ketika kenangan akan karya keselamatan dirayakan, terbukalah kesempatan untuk mengalami relasi yang sejati dengan Allah, dengan bersentuhan langsung dengan peristiwa keselamatan,” kata Paus.

“Karena gerak-gerik dan kata-kata dalam liturgi suci sangat penting untuk mewujudkan pengalaman ini, maka partisipasi umat beriman tidak boleh bersifat pasif,” lanjutnya.

Paus Leo melanjutkan rangkaian refleksinya mengenai Dokumen-Dokumen Konsili Vatikan II dan menyampaikan katekese terakhirnya mengenai Konstitusi tentang Liturgi Suci tahun 1963, Sacrosanctum Concilium.

Sacrosanctum Concilium merupakan dokumen pertama yang diundangkan dalam Konsili Vatikan II dan membawa perubahan-perubahan penting dalam liturgi, seperti diperbolehkannya penggunaan bahasa setempat serta dorongan bagi partisipasi umat beriman yang lebih aktif.

Dalam katekesenya, Paus menelaah alasan-alasan yang mendorong para Bapa Konsili untuk memajukan pembaruan tersebut.

Paus Leo XIV dalam Audiensi Umum
Paus Leo XIV dalam Audiensi Umum   (@Vatican Media)

Pembaruan liturgi berakar pada Tradisi Gereja yang hidup

Paus Leo mencatat bahwa keinginan untuk melakukan pembaruan ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan telah tampak dalam berbagai tindakan dan dokumen yang diterbitkan oleh para Paus secara berturut-turut sejak awal abad ke-20.

Ia menyebut, misalnya, Konstitusi Apostolik Divini Cultus yang diterbitkan Paus Pius XI pada tahun 1928, keputusan Paus Pius XII untuk mengubah waktu pelaksanaan beberapa ritus Pekan Suci, serta Motu Proprio Rubricarum instructum yang dikeluarkan Santo Yohanes XXIII pada tahun 1960.

“Dengan demikian, pembaruan liturgi yang dipromosikan oleh Konsili Vatikan II berakar kuat dalam Tradisi Gereja yang hidup,” kata Paus. “Pemahaman yang benar tentang pembaruan ini juga memungkinkan kita untuk menolak berbagai penyimpangan yang terjadi di beberapa bagian Gereja selama masa pascakonsili dan yang, sayangnya, masih kadang-kadang terjadi hingga saat ini, ketika beberapa prinsip yang mendasari pembaruan itu sendiri dibawa ke titik yang berlebihan atau disalahpahami.”

Audiensi Umum 26 Agustus
Audiensi Umum 26 Agustus   (@Vatican Media)

Tanggung jawab para uskup dan imam untuk menjaga liturgi

Paus juga menegaskan bahwa Sacrosanctum Concilium menekankan bahwa “pelayanan-pelayanan liturgis bukanlah tindakan pribadi, melainkan perayaan Gereja, yang merupakan ‘sakramen kesatuan’, yakni umat kudus yang dipersatukan dan diatur di bawah para uskup mereka.”

Oleh karena itu, kata Paus, merupakan “tanggung jawab utama para gembala, para uskup, dan juga setiap imam, untuk menjaga dan memajukan suatu liturgi yang, sambil menghormati norma-norma liturgis, bersinar dengan kesederhanaan yang luhur dan dengan demikian menyatakan Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.”

“Liturgi seperti itu juga akan menjadi sarana mendasar bagi evangelisasi, sebuah instrumen rahmat yang melaluinya, sebagaimana diajarkan Konsili, kita dapat belajar mempersembahkan diri kita dan, melalui perantaraan Kristus, disempurnakan dalam persatuan dengan Allah dan satu sama lain,” lanjut Paus.

Basilika Santo Petrus selama Audiensi Umum hari Rabu
Basilika Santo Petrus selama Audiensi Umum hari Rabu   (@Vatican Media)

Ungkapan yang sekaligus ilahi dan manusiawi

Untuk memahami alasan di balik pembaruan tersebut, Paus Leo XIV mengutip sebuah surat yang dikirim oleh Uskup Agung Milan saat itu, Kardinal Giovanni Battista Montini—yang kelak menjadi Paus Paulus VI—kepada umat di keuskupannya pada Oktober 1962.

Dalam surat itu, ia menunjukkan bahwa liturgi “merupakan ungkapan yang tulus, baik dari yang ilahi maupun yang manusiawi”, karena liturgi adalah “bahasa”, “sarana pengajaran ilahi”, dan “suara dalam dialog dengan Allah”.

Umat beriman, tulis calon Paus tersebut, “tidak dapat dan tidak boleh lagi tetap diam dan pasif”, karena “kehadiran fisik mereka tidak dapat diperdamaikan dengan ketidakhadiran rohani mereka.”

Paus Leo mencatat bahwa gagasan-gagasan ini digaungkan dalam nomor 48 Sacrosanctum Concilium, yang menekankan bahwa Gereja menghendaki agar umat beriman tidak mengambil bagian dalam liturgi sebagai “orang asing atau penonton yang diam”, melainkan “mengambil bagian dalam tindakan suci dengan menyadari apa yang mereka lakukan, dengan penuh devosi dan keterlibatan sepenuhnya.”

Dengan cara ini, mereka dapat “hari demi hari ditarik menuju persatuan yang semakin sempurna dengan Allah dan satu sama lain, sehingga akhirnya Allah menjadi segalanya dalam semua,” demikian bunyi teks Konstitusi tersebut.

Paus Leo XIV menyapa umat beriman dalam Audiensi Umun
Paus Leo XIV menyapa umat beriman dalam Audiensi Umun   (@Vatican Media)

Liturgi yang hidup dan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman

Paus mengatakan bahwa kata-kata tersebut menunjukkan “kesadaran yang diperbarui akan nilai liturgi” dan memungkinkan liturgi “bersinar sebagai ‘sumber utama pertukaran ilahi, yang melaluinya kehidupan Allah dikomunikasikan kepada kita’.”

Dari keyakinan inilah muncul kebutuhan untuk membuat teks-teks Kitab Suci dan doa-doa lebih mudah diakses serta menyederhanakan tata urutan perayaan, jelas Paus.

Ia menerangkan bahwa karena “liturgi merupakan suatu kenyataan yang hidup sepanjang abad, liturgi selalu mengalami perkembangan dan perubahan,” dengan menyesuaikan bentuk-bentuknya terhadap kebutuhan berbagai zaman.

“Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa Konsili Vatikan II pun, dengan penghormatan sebesar-besarnya terhadap warisan Tradisi, dan justru untuk membuatnya lebih mudah diakses, memandang perlu untuk merevisi buku-buku liturgi,” kata Paus.

Mengutip nomor 21 Sacrosanctum Concilium, Paus mencatat bahwa teks tersebut membedakan antara “unsur-unsur yang tidak dapat diubah karena ditetapkan oleh Allah” dan unsur-unsur manusiawi yang “tidak hanya dapat, tetapi juga harus diubah seiring berjalannya waktu.”

Dengan demikian, teks dan ritus dapat diperbarui agar “mengungkapkan dengan lebih jelas hal-hal kudus yang mereka tandakan” dan supaya umat beriman dapat “memahaminya dengan mudah serta mengambil bagian di dalamnya secara penuh, aktif, dan sebagaimana layaknya sebuah komunitas.”

26 Aug 2026, 10:21

Audiensi Terbaru

Read all >