Paus mengenang ikrar Polandia kepada Maria di bawah rezim komunis
Oleh Pastor Łukasz Bankowski
“Saya dengan hangat menyapa bangsa Polandia. Saya secara rohani menyatu dengan mereka yang berkumpul di Częstochowa,” kata Paus Leo XIV dalam Audiensi Umum pada hari Rabu.
Paus mengenang Ikrar Jasna Góra Bangsa Polandia, salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Gereja di Polandia pascaperang. Pada masa pemerintahan komunis, Gereja menjadi salah satu pembela utama kebebasan beragama dan identitas spiritual bangsa Polandia.
Ditulis oleh Kardinal Stefan Wyszyński ketika ia diasingkan oleh otoritas komunis Polandia, teks ikrar tersebut pertama kali dibacakan di hadapan sekitar 500.000 umat beriman.
“Semoga program pembaruan moral masyarakat yang terkandung di dalamnya, melalui perlindungan kehidupan manusia, perhatian terhadap perkawinan dan keluarga, serta pendidikan anak-anak dan kaum muda, terus mengilhami pembangunan keadilan dan persaudaraan,” kata Bapa Suci.
Primat menulis Ikrar saat berada dalam pengasingan
Di balik kata-kata tersebut terdapat kisah tentang bagaimana ikrar itu lahir. Pada tahun 1956, Kardinal Stefan Wyszyński, Primat Polandia, telah diasingkan oleh otoritas komunis selama hampir tiga tahun.
Selama masa penahanannya, ia semakin yakin akan perlunya pembaruan moral bagi masyarakat yang terluka, pertama oleh tragedi Perang Dunia Kedua dan kemudian oleh penindasan di bawah rezim komunis.
Apa yang dijanjikan bangsa Polandia?
Bangsa Polandia berjanji untuk setia kepada Allah, Salib, dan Injil; membela kehidupan manusia; menjaga kestabilan perkawinan dan keluarga; serta memberikan pendidikan Kristiani kepada anak-anak.
Mereka juga berkomitmen untuk melawan alkoholisme, sikap sembrono, dan pemborosan, sekaligus memajukan kerja yang jujur dan sikap saling menghormati.
Ikrar tersebut juga membayangkan sebuah Polandia yang bebas dari “kebencian, kekerasan, dan eksploitasi”, di mana buah-buah pekerjaan dibagikan sedemikian rupa sehingga tidak ada lagi orang yang “lapar, tunawisma, atau menangis.”
Tujuh puluh tahun kemudian, Paus Leo XIV kembali mengangkat pesan tersebut. Sebagaimana ditekankan Paus, program yang ditulis oleh Sang Primat ketika ia sendiri kehilangan kebebasannya itu hendaknya terus mengilhami pembangunan keadilan dan persaudaraan.
